Sunday, May 12, 2019

Laporan static ballance pada fixed pitch propeller pesawat cessna 172S


1.1 Latar Belakang Kerja Praktek

Sesuai dengan Tujuan pendidikan untuk membentuk manusia Indonesia seutuhnya yaitu pribadi yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, demokratis, menjunjung tinggi hak asasi manusia menguasai ilmu pengetahuan teknologi, sosial dan seni,  memiliki kesehatan jasmani dan rohani memiliki kepribadian yang mantap, mandiri dan kreatif, memiliki keterampilan hidup yang berharkat dan bermartabat serta memiliki tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan yang mampu mewujudkan kehidupan bangsa yang cerdas dan berdaya saing di era globalisasi.

Dengan mengikuti garis kebijakan seperti tersebut diatas dan mempelajari keadaan sekarang ini di Indonesia serta prinsip penguasaan keahlian profesi sudah waktunya dipikirkan Kerja Praktek yang merupakan perpaduan saling melengkapi antara kuliah di kampus dan keahliah profesi yang didapatkan melalui pengalaman kerja.

Berdasarkan kurikulum pendidikan Diploma III program studi Rangka Pesawat Terbang Akademi Teknologi Aeronautika Siliwangi (ATAS), maka mahasiswa tingkat akhir diwajibkan melakukan kerja praktek. Pendidikan di kampus sebagai alat utama pengembangan sumber daya manusia harus secara optimum berperan membentuk mahasiswa yang menjadi modal bangsa yang dapat diandalkan dalam pembangunan nasional Negara yang sedang berkembang. Sehingga mereka mampu menjadi manusia yang produktif dan menjadi manusia yang inovatif menciptakan produk unggulan. Keahlian professional yang dimiliki oleh setiap merupakan andalan utama untuk dapat tetap bertahan dan siap menghadapi persaingan global mendatang.

Kerja praktek merupakan salah satu sarana untuk mewujudkan hal tersebut karena praktek dapat memandukan ilmu yang didapat oleh mahasiswa di kampus dengan dunia kerja yang sebenarnya.


1.2 Maksud dan Tujuan Pelaksanaan Kerja

1.      Memperluas dan memperdalam ilmu yang diperoleh selama dikampus serta mengamati karyawan saat bekerja dalam suatu perusahaan atau industri.
2.      Mengamati dan mengatahui suasana lingkungan kerja secara dini dan memberikan kesempatan pada mahasiswa agar mengetahui secara langsung permasalahan yang terjadi dalam suatu perusahaan atau industri.

1.3 Manfaat Pelaksanaan Kerja Praktek

1.      Memberikan pengalaman kerja kepada mahasiswa sebelum mereka benar-benar terjun dalam dunia kerja yang sebenarnya.
2.      Mengetaui sejauh mana ilmu yang didapat di bangku perkuliahan dapat diimplementasikan dalam kehidupan.
3.      Meningkatkan kemampuan dan keterampilan mahasiswa dalam memecahkan suatu permasalahan.
4.      Menambah ilmu yang belum didapat di kampus atau dapat juga memperdalam ilmu yang sudah didapat.
5.      Memberikan kepada mahasiswa gambaran pekerjaan yang akan dilakukan sehubungan dengan jurusan yang diambil.

1.4 Batasan Masalah

Batasan masalah yang digunakan dalam penulisan laporan kerja praktek ini adalah membahas mengenai static balance pada fixed pitch propeller cessna 172S

1.5 Metodologi

            Metodologi yang digunakan dalam penyusunan untuk pembuatan laporan kerja praktek ini adalah menggunakan metoda Study Lapangan / Observasi dan study literatur. Adapun langkahnya sebagai berikut:     
1.      Study Literatur
Mempelajari prosedur AMM (Aircraft Maintenance Manual) pesawat cessna 172S dan manual mengenai static balance fixed pitch propeller

2.      Study Lapangan / Observasi
Mengamati dan mempelajari secara langsung cara kerja, proses, serta bentuk dari static balance propeller cesna 172S

1.6 Sistematika Penulisan

          Sistematika penulisan penyusunan laporan di bagi dalam beberapa BAB, dimana setiap BAB mambahas suatu permasalahan.BAB-BAB tesebut dibagi menjadi beberapa sub BAB yang membahas tentang hal-hal yang pokok. Guna memperoleh gambaran umum mengenai permasalahan dan pembahasan dari penulisan ini, maka penulis menyusun berdasarkan Sistematika sebagai berikut:

·         BAB I PENDAHULUAN
       Berisi uraian mengenai latar belakang kerja praktek, Tujuan Pelaksanaan Kerja Praktek, Tujuan Pembuatan Laporan Kerja Praktek, Batasan Masalah, Metodologi, Sistematika Penulisan.

·         BAB II GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN
       Berisi tentang gambaran umum PT Rekatama Putra Gegana Aviation
·         BAB III LANDASAN TEORI
      Berisi penjelasan tentang spesifikasi pesawat Cessna 172S dan penjelasan propeller secara umum
·         BAB IV
            Berisi pembahasan tentang Static Balance pada Fixed Pitch Propeller pesawat Cessna 172S

·         BAB V KESIMPULAN DAN SARAN
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN
BAB II
PROFILE PERUSAHAAN

2.1  Sejarah Singkat Perusahaan.

            PT Rekatama Putra Gegana Aviation pada awalnya bernama PT.Rekatama Putra Gegana Bandung yang berdiri pada tanggal 4 Juli 1986 di Jakarta dengan dipimpin oleh para purnawirawan TNI Angkatan Udara yang duduk sebagai manajemen dan konsaris perusahaan
Pada saat didirikan, alamat kantor dan manajemen PT.Rekatam Putra Gegana Bandung bertempat di Jakarta dengan alamat Gedung Wisma Adi Upaya Jalan Budi Kemuliaan No.16 Jakarta dan workshop bertempat di Bandung yang yang beralamat di Jalan Aruna No.11 Pajajaran Bandung, dekat dengan Bandara Internasional Husen Sastra Negara
Seiring dengan perkembangan perusahaan serta untuk memudahkan kegiatan operasional perusahaan, maka pada tahun 1990 kantor manajemen PT.Rekatama Putra Gegana Bandung yang semula beralamat di Jakarta akhirnya pindah dan bergabung dengan workshop yang ada di Bandung.  Selang beberapa tahun keudian kamtor PT. Rekatama Putra Gegana Bandung pindah alamat ke Jalan Aruna 31 Pajajaran Bandung, masih di jalan yang sama hanya berpindah lokasi karena lokasi kantor sebelumnya telahhabis masa kintraknya. Status gedung dan tanah di Jalan Aruna 31 Pajajarn Bandung yang ternyata masih tanah sengketa, membuat manajemen PT. Rekatama Putra Gegana Bandung akhirnya memutuskan untuk pindah lokasi yang ketiga kalinya agar dapat melaksanakan kegiatan operasional kantor dengan aman, tenang, dan nyaman. Padahal awal tahun 2005, PT Rekatama Putra Gegana Bandung secara resmi menempati gedung baru yang merupakan gedung sah milik perusahaan dengan alamat di Jalan Bima No. 90 Bandung 40172 sampai dengan surat ini.
            Pada masa awal kegiatan usaha, PT. Rekatama Putra Gegana Bandung atau yang lebih kenal dengan singkatan PT. RPG Bandung memulai kegiatan usaha dengan ruang lingkup perawatan komponen pesawat udara dengan memperoleh kontrak pekerjaan dari TNI Angkatan Udara yaitu perawatan dan inspeksi pesawat-pesawat militer diantaranya pesawat Hercules C-130, British Aerospace Hawk, F-16 Fighting Falcon, CASA CN-235, CASA C-212 dan Helicopter Sikorsky Berdasarkan kontrak yang diberikan setiap paket pekerjaan.
Kemitraan kerja yang terjalin hanya dengan pihak militer ini tidak berlangsung lama dikarenakan adanya peningkatan kegiatan usaha bisnis penerbangan yang ditandai oleh bermunculnya operator-operator penerbangan swasta baru yang mulain menjalankan usahanya di indonesia, maka pihak manajemen PT. Rekatama Putra Gegana Bandung memutuskan selain dalam bidang perawatan dan perbaikan pesawat militer juga melayani perawatan dan perbaikan pesawat sipil atau komersial baik di dalam negri maupun di luar negri.
Proses pengajuan sertifikat ijin usaha perawatan komponen-komponen pesawat udara kepada Direktorat Jendral Perhubungan Udara Republik indonesia melalui Direktorat Sertifikat ijin usaha AMO (Approved Maintenance Organization) atau organisasi perawatan pesawat udara yang telah disahkan dari otoritas penerbangan sipil cukup sulit karena dalam penerbanagn sifil faktor keselamatan penerbangan menjadi prioritas utama. Hal ini tentu saja sangat berpengaruh terhadap sistem manajemen perusahaan yang harus dirubah dan diterapkan di setiap perusahaan yang merupakan organisasi perawatan pesawat udara sipil. Dengan melalui proses panjang dan jalan yang berliku akhirnya PT. Rekatama Putra Gegana Bandung mendapatkan pengesahan atau Certificate of approval dari Direktorat Sertifikasi Kelaikan Udara (DSKU) Nomor 145/14700 pada tahun 1990 dan ini menandai awal dimulainya kegiatan perusahaan dalam usaha jasa di bidang perawatan dan perbaikan komponen-komponen pesawat udara sipil. Kegiatan ini terus berlanjut sampai dengan sekaranag dengan penambahan-penambahan kemampuan peruahaan untuk memperbaiki setiap komponen-komponen yang terpasang di pesawat udara. Selama kurun waktu tersebut mulailah bermunculan perusahaan-perusahaan dengan bidang usaha yang sama dengan PT. Rekatama Putra Gegana Bandung. Persaingan-persaingan usaha yang terkadang boleh dikatakan agak kurang sehat perlahan-lahan muncul ke permukaan terutama dalam soal harga jasa perbaiakn komponen-komponen pesawat udara yang ditawarkan kepada customer itu sendiri. Harga yang cenderung murah tentu saja berpengaruh besar terhadap kualitas dan daya tahan barang yang telah diperbaiki. Mengingat hal tersebut, maka PT. Rekatama Putra Gegana Bandung harus senantiasa berusaha untuk terus melakukan peningkatan kemampuan karyawan dan peralatan-peralatan yang mendukung pekerjaannya agar dapat bersaing dengan perusahaan lain, yaitu dengan cara mengadakan training atau pelatihan-pelatihan baik di dalam perusahaan maupun diluar perusahaan. Karena bagi perusahaan, karyawan adalah aset berharga yang harus terus dijaga, dibina dan ditingkatkan skill individunya sehingga hasil kedepannya akan dirasakan oleh karyawan itu sendiri dan perusahaan tempat dia bekerja baik secara langsung ataupun secara tidak langsung.
Dalam kurun waktu  yang telah dilalui oleh PT Rekatama Putra Gegana Bandung di bidang usaha jasa perawatan dan perbaikan komponen-komponen pesawat udara, ada kejadian yang cukup merubah tatanan dunia penerbangan di Indonesia, hal ini diawali oleh terjadinya accident atau kecelakaan seperti jatuhnya pesawat udara milik maskapai penerbangan ternama PT Adam Sky Conecction atau lebih dikenal dengan nama Adam Air di awal tahun 2007. Di tahun inilah merupakan awal dari perubahan paradigma keselamatan penerbangan. Peraturan-peratuan penerbangan yang dirasa masih lemah atau kurang diterapkan, terus diperketat dan disempurnakan sehingga ditetapkanlah landasan untuk aturan dunia penerbangan di Indonesia dalam bentuk Undang-Undang yaitu Undang-Undang Penerbangan Nomor 1 Tahun 2009. Dengan adanya undang-undang baru ini langsung berperanguh besar terhadap industri penerbangan di Indonesia. Operator penerbangan atau perusahaan perawatan komponen pesawat terbang yang tidak memiliki sumber daya manusia dan fasilitas yang memadai akan tersingkir, karena dalam peraturan-peraturan penerbangan yang baru dituntut untuk lebih meningkatkan sistem manajemen keselamatan penerbangan udara yang lebih kompleks dari sebelumnya. Hal ini tentu saja membutuhkan biaya dan waktu yang tidak sedikit dalam penerapannya di masing-masing perusahaan.
PT Rekatama Putra Gegana Bandung diusianya yang sekarang sudah tidak muda lagi yaitu 33 tahun atau boleh dibilang merupakan perusahaan senior dibidang perawatan dan perbaikan komponen pesawat udara setelah PT Garuda Maintenance Facility, anak perusahaan dari PT Garuda Indonesia dan PT Merpati Maintenance Facility, anak perusahaan PT Merpati Nusantara Airlines, PT Rekatama Putra Gegana Bandung terus berusaha menjadi perusahaan yang mengutamakan kualitas terbaik dari hasil repair  pada spare parts pesawat udara dan tentu saja mengedepankan kerjasama dengan pelanggan setia perusahaan. Dengan motto perusahaan saat ini “Your Partners In Aviation Services”, cita-cita ke depan PT Rekatama Putra Gegana Bandung yaitu inin menjadi perusahaan nomor satu di bidang perawatan dan perbaikan komponen-komponen pesawat udara baik di dalam negeri maupun di luar negeri.
            Seiring berjalan waktu PT. Rekatama Putra Gegana Bandung nberubah nama menjadi PT.Rekatama Putra Gegana Aviation atau disingkat PT. RPG Aviation, yang sekarang telah menjadi bagian dari Organisasi Pemeliharaan yang Disetujui Indonesia dalam bidang Aircraft Component Overhaul and Repair Shop. Perjalanan yang luar biasa ini membuat komitmen kami untuk memuaskan pelanggan adalah prioritas kami.
            Setelah PT. RPG aviation mengalami audit beberpa kali , sekarang perusahaan ini beroperasi di bawah Sertifikat Persetujuan dari Direktorat Jenderal Sipil Republik (Directorate General of Civil Aviation) Penerbangan Indonesia, Approved Maintenance Organization Number 145D-147.

2.2  Logo Perusahaan







Gambar 2.1 Logo RPG


2.3  Operation Specification  

2.3.1        Tujuan
              Dokumen ini (Lampiran 1) adalah Bagian dari Manual AMO PT. Rekatama Putra Gegana Aviation DGCA AMO No. 145D-147. Ini berisi daftar semua Kemampuan dan dibagi menjadi 4 (Empat) peringkat sebagai berikut:
2.3.1.1              Limited Propeller (Inspection, Repair, and Overhaul).
2.3.1.2              Limited Accessories (Inspection, Repair and Testing).
2.3.1.3              Limited Emergency Equipments (Inspection, Servicing, Re-
packing, an Hydrostatic Test).
2.3.1.4              Non Destructive Test :
a.       Ultrasonic Testing.
b.      Magnetic Particle Testing.
c.       Liquid Penetrant Testing.
d.      Eddy Current Testing.
e.       Radiography Inspection
f.        Borescope Testing.
2.3.2        Revision and Control
            Revisi daftar kemampuan ini akan dilakukan oleh Manajer Kontrol Kualitas PT. Rekatama Putra Gegana Koordinasi penerbangan dengan Direktorat Jenderal Perhubungan Udara.

2.4.1  Executive
President Director                                 : Suyoso’
2.4.2  Manager
Manager                                             : Indra Setiawan
Business Manager                              : Doddy Priabudi
Maintenance Manager                       : Rudi Tarudi
General Affair Manager                     : Doddy Priabudi
2.4.3  Staff
Finance                                   : Sumarni
Administration                       : Tri Nuryanty
Purchasing                              : Fudin Zainal
Marketing                               : Ristanto Hartadi
Storage                                   : Handi Hardian
Office Boy                             : Kusnadi
2.4.4  Inspector
Propeller Shop                                   : Kaidjo
Accessories Shop                               : Agus Rachman
Emergency Equipment Shop             : Indra Setiawan
Non Destructive Test Shop                : Djoko Sumbarto
2.4.5  Technician
Gunadi
Radino
Nana Permana
Sudjat
Tarwo
Handi Hardian
Anggitya Prahandita
Arief Wahyudi
Prayogi
























Gambar 2.2 Struktur Orgsanisasi RPG

2.5      Pernyataan kebijakan garansi untuk overhaul, repair and test of aircraft spare and part

            PT. REKATAMA PUTRA GEGANA AVIATION kebijakan perusahaan untuk waran Overhaul, Repair, dan Layanan pengujia yang mengacu pada Kelayakan Udara Berlanjut dan membuktikan bahwa perangkat tersebut bebas dari cacat dalam pengerjaan, asalkan, bahwa kewajiban perusahaan akan terbatas pada perbaikan atau penggantian suku cadang yang dipasang oleh perusahaan yang mungkin rusak akibat cacat seperti itu.
2.5.1   Overhaul Warranty
      150 hours flight time atau 3 bulan dari tanggal pengiriman yang pernah terjadi terlebih dahulu (hanya untuk Propeller). 150 hours flight time atau 3 bulan dari tanggal pengiriman yang pernah terjadi terlebih dahulu (untuk Radio dan hanya komponen Instrumen).


2.5.2  Reepair Warranty
      150 hours flight time atau 3 bulan dari tanggal pengiriman yang pernah terjadi terlebih dahulu (hanya untuk Aksesori).
2.5.3  Test Warranty
      Terbatas hanya untuk menguji ulang komponen tersebut. Jika hasil tes asli dikonfirmasi garansi akan ditolak, biaya tes akan dibebankan.
2.5.4  Warranty Obligation
            Kewajiban perusahaan berdasarkan garansi ini hanya berlaku ketika syarat dan ketentuan berikut dipenuhi;
2.5.4.1  Bahwa setelah diperiksa oleh perusahaan, harus diungkapkan untuk kepuasan bahwa komponen sebenarnya rusak.
2.5.4.2     Bahwa dalam diagnosa yang tepat atau pemecahan masalah cacat oleh pelanggan bukan
2.5.4.3     menyebabkan penghapusan dan kembali untuk pertimbangan garansi.
2.5.4.4     Unit belum diperbaiki atau diubah keselamatan luar, operasi efisiensi dan
2.5.4.5     belum disalahgunakan, diabaikan atau rusak karena kecelakaan atau elemen.

2.5.5                    Warranty Void If
2.5.5.1    Menangani kesalahan, Menyalahgunakan atau Penyimpanan
  yang tidak benar oleh pelanggan.
2.5.5.2    Lainnya disebabkan oleh pelanggan yang akan berdampak
pada tidak layaknya artikel.
2.5.5.3    Segel garansi rusak.

2.6      Fasilitas Perawatan

           Fasilitas perawatan PT. Rekatama Putra Gegana, di setujui oleh DGCA dengan sertificat Approved Maintenance Organization (AMO) No.145D-147 yang sepenuhnya bertempat di dalam bangunan beton dan bangunan bata yang disertai kantor, lokasi di jalan Bima No.90 Bandung. Mempunyai total area 788 meter persegi , terdiri dari :
2.6.1    Total area 788 m2. Dialokasikan  untuk :
2.6.1.1  Area bangunan
:
4332
2.6.1.2  Workshop
:
Lantai utama 260 m2, Lantai dua 140 m2
2.6.1.3  Storage
:
9          m2
2.6.1.4  Offices
:
150    2
2.6.1.5  Toilet
:
8 m2

2.6.2    Area parkir motor dan mobil 355 m2
2.6.3.1  Tegangan listrik
:
220lt, 380 Volt, 3Phase 11 KVA
2.6.3.2  Air
:
Roda dengan pompa listrik, dengan kapasitas tangki 800 ltr
2.6.3.3  Compressed air
:
Electric compressure 4K, 485 lt/min
2.6.3.4  Kapasitas tanki
:
200 ltr dengan 200 PS

2.6.3    Tegangan listrik, air dan air pressure

 





 

2.7      Marketing & Sales

Doddy Priabudi

Ristanto Hartadi




2.8            Sertificate of Aproval





















Gambar 2.3 Certificate Approval






                         


                















Gambar 2.4 Issuance and Applicability






















Gambar 2.5 Rating and Limitations



                                                            



















Gambar 2.6 Rating and Limitations



                                                 




















Gambar 2.7 Rating and Limitations



                                                               


















Gambar 2.8 Rating and Limitations



                                                                       



















Gambar 2.9 Rating and Limitations



BAB III
DASAR TEORI
3.1 Sejarah Cessna 172S
Cessna 172 Skyhawk adalah pesawat jenis piston engine, bersayap tetap dilengkapi dengan empat kursi.Cessna 172S ini bermesin tunggal dan didesain dengan sayap tinggi (high wing) yang dibuat oleh Cessna Aircraft Company.
Gambar 3.1. The First Cessna 172.
Sejarah Cessna 172 Skyhawk di mulai pada tahun 1960. Dengan menggunakan mesin 4 silinder Lycoming O-320. Dengan alasan efisiensi dan penambahan performa, Cessna 172 Skyhawk di lakukan upgrade mesin ke Lycoming O-320 E. Setelah bertahun tahun mengalami berbagai perubahan dan perkembangan mulai dari bentuk ekor, desain jendela kabin, sistem radio, Cessna Skyhawk semakin memantapkan sebagai pesawat trainer bermesin tunggal yang terpercaya.
Kelincahan, kenyamanan, sistem avionics radio dan radar dan berbagai instrument pendukung yang memadai akan memudahkan para calon pilot dalam meningkatkan jam terbang.
Gambar 3.2. Modern Design Cessna 172S.












3.2  Spesifikasi Cessna 172S
Specifications
        
Engine make/model:
Lycoming IO-360-L2A
Horsepower rpm @takeoff:
180@SL
Horsepower for takeoff:
180
TBO hrs.:
2000
Fuel type:
100/100LL
Propeller type/diameter:
76 in. McCauley
Landing gear type:
Tri./Fixed
Max ramp weight (lbs.):
2558
Gross weight (lbs.):
2550
Landing weight (lbs.):
2550
Standard empty weight, std. (lbs.):
1663
Basic empty weight (lbs)
Useful load, std. (lbs.):
1642
895
Useable fuel, std. (gals.):
53
Oil capacity (qts.):
8
Wingspan:
36 ft. 1 in.
Overall length:
27 ft. 2 in.
Height:
8 ft. 11 in.
Wing loading (lbs./sq. ft.):
14.7
Power loading (lbs./hp.):
14.2
Wheel size (in.):
6.00 x 6
Seating capacity:
4
Cabin doors:
2
Cabin width (in.):
40
Cabin height (in.):
48
                        

Gambar 3.3 .  Spesification Cessna 172S.



3.3 Pengertian Propeller
Propeller adalah salah satu bagian mesin yang berfungsi sebagai alat penggerak mekanik, misalnya pada pesawat terbang, kapal laut, hovercraft dan lain-lain. Baling-baling (propeller) ini memindahkan tenaga dengan cara merubah gaya putar dari baling-baling menjadi daya dorong untuk menggerakkan badan pesawat dengan perantara massa udara (pesawat terbang), dengan memutar blade yang bersumbu pada poros.       
Propeller atau disebut dengan baling-baling adalah merupakan airfoil yang berputar yang berfungsi untuk menginduksi gaya hambatan, stall, dan gaya aerodynamic lainnya yang di aplikasikan pada setiap airfoil. Propeller memberikan gaya dorong yang diperlukan untuk memberikan tenaga agar pesawat bisa naik atau berfungsi untuk mendorong pesawat melewati udara.
Tenaga pada engine digunakan untuk memutar propeller dimana perputarannya menciptakan gaya dorong sama seperti cara sayap memproduksi gaya angkat (lift). Besarnya gaya dorong tegantung dari bentuk airfoilnya, (angle of attack) dari blade propeller tersebut, dan RPM dari engine. propeller tersebut memiliki bentuk yang berputar sehingga memiliki sudut yang berbeda dari pangkal sampai dengan ujung propeller
Alasan dari bentuk tersebut adalah untuk memproduksi gaya angkat yang seragam dari pangkal sampai ujung, saat propeller berputar ada perbedaan kecepatan pada berbagai bagian dari, blade propeller. Ujung propeller berputar lebih cepat daripada bagian yang dekat dengan bagian pangkal, karena bagian ujung berputar dengan jarak yang lebih besar dalam waktu yang sama.
Perubahan pitch dari pangkal ke ujung sesuai dengan kecepatan yang menghasilkan gaya angkat yang seragam sepanjang propeller. Jika blade propeller di desain dengan sudut yang sama dari pangkal sampai keujungnya, itu akan menjadi kurang efisien karena kecepatan udara bertambah pada saat terbang, bagian terdekat dengan pangkal akan mendapatkan negative angle of attack sedangkan ujungnya akan stall.
Pesawat kecil menggunakan satu atau dua macam propeller. Fix pitch dan controllable pitch fixed pitch propeller. Pitch dari propeller ini sudah disesuaikan dari pabrik dan tidak dapat diubah. Dengan tipe baling-baling seperti ini efisiensi yang terbaik adalah saat adanya kombinasi dari kecepatan udara dan RPM.
Gambar 3.4 Contoh Propeller
3.4  Jenis-jenis Propeller
3.4.1 Fixed pitch
Sebuah Propeller dengan blade tetap adalah propeller fixed-pitch. Pitch propeller ini diatur oleh pabrikan dan tidak dapat diubah. Karena propeller fixed-pitch mencapai efisiensi terbaik hanya pada kombinasi tertentu. The fixed-pitch propeller digunakan ketika low weight, simplicity, dan biaya rendah diperlukan.
Ada dua jenis baling-baling fixed-pitch: climb dan cruise propeller. Pemasangan dua tipe propeller Ini tergantung pada tujuannya masing-masing.
1.      Climb propeller
memiliki pitch yang rendah sehingga menghasilkan drag yang kecil, menghasilkan RPM yang lebih tinggi dan lebih banyak kemampuan horsepower, menambahkan performa selama take off dan climb tetapi mengurangi performa saat cruise.

2.      Cruise propeller
memiliki pitch yang besar sehngga dragnya lebih besar menghasilkan RPM rendah dan kemampuan horsepower berkurang, mengurangi performa untuk take off dan climb tetapi menambahkan performa untuk cruise
3.4.2 Controllable pitch
Pilot dapat mengubah pitch propeller dalam penerbangan atau saat engine beroperasi dengan rata-rata mekanisme mengubah pitch yang dapat dioperasikan oleh hidrolik.
3.4.3 Constant speed atau Variable Propeller
konstan kecepatan propeller memanfaatkan hidrolik atau elektrik dioperasikan dengan cara mengubah mekanisme yang dikendalikan oleh governor. Pengaturan governor disesuaikan oleh pilot dengan tuas RPM di cokpit. Selama operasi, kecepatan konstan speed propeller otomatis akan mengubah sudut blade untuk mempertahankan kecepatan engine konstan. Jika tenaga engine meningkat, sudut blade meningkat untuk membuat propeller menyerap daya tambahan sementara rpm tetap konstan. Pada posisi lain, jika tenaga mesin berkurang, sudut blade akan menurun untuk membuat pisau menggigit kurang udara untuk menjaga rpm engine tetap konstan. Pilot memilih kecepatan engine yang dibutuhkan untuk semua jenis operasi tertentu.
Sebuah propeller pesawat beroperasi sebagai sumber gaya dorong yang mendorong pesawat ke depan.
Ketika pesawat adalah stasioner dengan propeller berputar (di udara tenang), udara mengalir melewati bagian terdepan dari propeller. Ini adalah konfigurasi yang paling efisien karena kekuatan tarik pada propeller adalah yang terendah. Saat pesawat mulai bergerak maju, aliran udara mulai mendorong terhadap bagian depan, penampang yang lebih luas dari propeller, menciptakan hambatan besar.
Sebuah baling-baling kecepatan konstan mampu memutar sepanjang sumbu terpanjang blade untuk menggigit tajam udara sehubungan dengan pesawat, memungkinkan baling-baling untuk mempertahankan orientasi yang paling efisien untuk aliran udara di sekitarnya. Ini menyeimbangkan tradeoff bahwa baling-baling fixed-pitch harus membuat antara kinerja tinggi take-off dan kinerja cruising tinggi.
Sudut angle of attack yang rendah membutuhkan setidaknya torsi, tapi RPM tertinggi karena propeller tidak bergerak sangat banyak udara denganh setiap revolusi. Hal ini mirip dengan operasi mobil di gigi rendah. Ketika pengemudi mencapai kecepatan jelajah mereka akan memperlambat mesin sementara masih menghasilkan daya yang cukup untuk menjaga kendaraan bergerak. Hal ini dilakukan dalam sebuah pesawat dengan meningkatkan angle of attack dari propeller. Ini berarti bahwa propeller bergerak lebih banyak udara per revolusi dan memungkinkan engine untuk berputar lebih lambat sambil bergerak volume setara udara, sehingga menjaga kecepatan.
Usaha pertama pada kecepatan konstan propeller yang disebut penyeimbang yang didorong oleh mekanisme yang beroperasi pada gaya sentrifugal. Operasi mereka adalah identik dengan governor Watts digunakan untuk membatasi kecepatan uap dan engine diesel besar. Ketika baling-baling mencapai RPM tertentu, gaya sentrifugal akan menyebabkan counterbalances ini untuk mengayunkan keluar, yang akan mendorong mekanisme yang memutar propeller ke step field. Ketika pesawat melambat, RPM akan menurun cukup untuk spring untuk mendorong counterweights kembali, bersatu ke shallow field.
Dalam model-model baru dari kecepatan konstan propeller, minyak dipompa melalui poros propeller untuk mendorong pada piston yang mendorong mekanisme untuk mengubah pitch. Aliran minyak dan lapangan dikendalikan oleh seorang governor, yang terdiri dari speeder spring, flying weight, dan katup pilot. Ketegangan dari speeder semi diatur oleh tuas kontrol prop, yang menetapkan RPM.
Governor akan mempertahankan bahwa pengaturan RPM sampai kondisi overspeed atau underspeed ada. Ketika kondisi overspeed terjadi, propeller mulai berputar lebih cepat daripada pengaturan RPM diinginkan. Ini akan terjadi saat pesawat turun dan meningkatkan kecepatan udara. Bobot terbang mulai menarik keluar akibat gaya sentrifugal yang selanjutnya kompres speeder spring. Seperti yang terjadi, piston bergerak maju memungkinkan katup pilot untuk membuka dan minyak mengalir dari bak oli ke hub.
Peningkatan tekanan minyak akan meningkatkan pitch sudut propeller menyebabkan ia memperlambat kembali ke pengaturan RPM diinginkan. Ketika kondisi underspeed terjadi, seperti dalam mendaki dengan kehilangan kecepatan udara, justru sebaliknya terjadi. Kecepatan udara menurun yang menyebabkan baling-baling untuk memperlambat. Hal ini akan menyebabkan bobot terbang untuk bergerak ke dalam karena kurangnya dalam gaya sentrifugal dan ketegangan akan dirilis dari speeder spring. Karena ini terjadi, piston akan bergerak dalam arah yang berlawanan menyebabkan katup pilot untuk memungkinkan minyak mengalir dari hub kembali ke bak oli. Sudut blade propeller sekarang akan menurun ke tempat yang lebih rendah memungkinkan propeller untuk mempercepat kembali ke pengaturan RPM diinginkan. Proses ini biasanya berlangsung sering sepanjang penerbangan.
Semua pesawat kinerja tinggi memiliki kecepatan konstan baling-baling karena mereka mampu meningkatkan efisiensi bahan bakar dan performa, terutama pada ketinggian tinggi.
3.4.4  Full Feathering
Sebuah propeller kecepatan konstan yang memiliki kemampuan untuk mengubah tepi untuk angin dan dengan demikian menghilangkan drag dan wind milling dalam hal kegagalan engine. Istilah Feathering mengacu pada pengoperasian memutar blade propeller ke posisi angin untuk tujuan menghentikan rotasi propeller untuk mengurangi drag. Oleh karena itu, blade berada dalam posisi in line pada saat penerbangan, efisien dengan garis penerbangan (memutar blade ke field yang sangat tinggi).
3.4.5 Reversing
Sebuah propeller kecepatan konstan yang memiliki kemampuan untuk mengasumsikan sudut blade negatif dan menghasilkan dorong membalikkan. Ketika propeller yang dibalik, blade diputar di bawah sudut positif mereka, yaitu, melalui pitch datar, sampai sudut blade negatif diperoleh untuk menghasilkan daya dorong bertindak dalam arah yang berlawanan ke dorong ke depan. Sebaliknya baling-baling dorong yang digunakan di mana pesawat besar yang mendarat, dalam mengurangi panjang pendaratan run.

3.4.6 Beta Control
Sebuah propeller yang memungkinkan pengguna reposisi sudut blade propeller di luar low pitch stop. Paling sering digunakan dalam taxi.
3.5 Bagian-bagian Propeller
1.      blade
Jarak pada propeller dari hub ke blade Tip
2.      Blade Tip
Merupakan bagian paling ujung dari Propeler
3.      Blade Root
Merupakan bagian pangkal dari propeller, bagian atas dari propeller disebut blade sunk
4.      Leading Edge
Merupakan bagian depan yang tebal dan berbentuk cembung dari propeller
5.      Trailing Edge
Merupakan bagian belakang dan tipis dari propeller
6.      Upper surface
Merupakan permukaan bagian atas dari propeller
7.      Lower surface
Merupakan permukaan bagian bawah dari propeller
8.      Hub
Merupakan bagian yang berfungsi untuk mengikat blade propeller
9.      Counterweight
berfungsi apabila terjadi kelebihan sudut maka secara otomatis ia akan mengcounter/melawan kelebihan sudut tersebut.
10.  Governor
Adalah Alat yang digunakan untuk mengendalikan sudut pada propeller
Gambar 3.5 Bagian-bagian propeller







3.6 Sudut Pada Propeler
Terdapat 4 posisi sudut blade propeller
1.      Posisi sudut pertama: Idle angle dimana sudut propeller 0º test running engine

Gambar 3.6 Idle Angle

2.      Posisi sudut kedua: Flight angle yang dimana sudutnya berkisar 0º& 80º

Gambar 3.7 Flight Angle

3.      Posisi sudut ketiga: pada saat pesawat touchdown dibutuhkanc thrust untuk membantu pengereman , sudutnya berkisar 0º & -15º
Gambar 3.8 Reverce
4.      Posisi sudut keempat: pada saat sudah berhenti governor akan mengeset sudut blade ke feather angle agar propeller tidak dapat berputar apabila terkena angin sudutnya berkisar 80º
Gambar 3.9 Feather Angle




3.7 Pengertian Balance
Ballancing atau keseimbangan adalah kemampuan suatu benda untuk kembali ke posisi semula saat gaya yang mengganggunya hilang.
3.8 Jenis-jenis balance propeller
3.8.1 static balance
Static balance adalah sebuah proses pemeriksaan berat dari blade agar berada dalam posisi seimbang atau memastikan bahwa baling-baling (propeller) tidak mengalami tension atau compression apa pun karena area yang berat pada salah satu blade.
Selama static ballance, baling-baling dipasang pada mandrel yang bertumpu pada bantalan yang memiliki gesekan rendah sehingga baling-baling bebas berputar, dengan sedikit gaya yang diperlukan untuk memindahkannya.
Gambar 3.10 Static Ballance


3.8.2 Dinamic balance
Baling-baling juga dapat secara dinamis ballance (spin ballance) dengan alat analisis untuk mengurangi tingkat getaran baling-baling dan spinner assembly. Beberapa pesawat memiliki sistem bawaan di dalam pesawat dan di pesawat lain sensor dan kabel harus dipasang sebelum balancing dilakukan. Menyeimbangkan perakitan propulsi dapat memberikan pengurangan substansial dalam getaran dan kebisingan yang ditransmisikan ke kabin dan juga mengurangi kerusakan berlebihan pada komponen pesawat dan engine lainnya. Ketidakseimbangan dinamis dapat disebabkan oleh ketidakseimbangan massa atau ketidakseimbangan aerodinamik. Penyeimbangan dinamis hanya meningkatkan getaran yang disebabkan oleh ketidakseimbangan massa komponen yang berputar secara eksternal dari sistem propulsi. Penyeimbangan tidak mengurangi tingkat getaran jika engine atau pesawat berada dalam kondisi mekanis yang buruk. Bagian yang rusak, aus, atau longgar akan membuat penyeimbangan menjadi mustahil. Beberapa produsen membuat peralatan penyeimbang propeller yang dinamis, dan pengoperasian peralatan mereka bisa berbeda. Sistem penyeimbangan dinamis tipikal terdiri dari sensor getaran yang dipasang pada engine yang dekat dengan propeller, dan unit analisis yang menghitung berat dan lokasi bobot penyeimbang.














BAB IV
PEMBAHASAN

4.1 Static Balance pada Fixed Pitch Propeller Cessna 172S
Berikut merupakan proses dari static balance pada Fixed Pitch Propeller Cessna 172S :
Gambar 4.1 Diagram alur static balance procedure pada Fixed Pitch Propeller Cessna 172S
1.    Reason For The Job
Reason for the job berisi tentang kenapa harus dilakukan static balance pada fixed pitch propeller cesna 172S.
2.    Job Set-up Information
Job set-up information merupakan bagian yang menyediakan informasi tentang fixture, tools, support, equipment, dan referensi dokumen tentang beberapa pengerjaan untuk mendukung static ballance.
3.    Job Set-up
Job set-up merupakan pengerjaan pendukung yang dilakukan sebelum melakukan static ballance.
4.    Procedure
Procedure yaitu langkah-langkah yang dilakukan pada static ballance.
5.    Close-up
Close-up adalah pengerjaan yang dilakukan untuk mengembalikan propeller ke posisi semula dan mengisi maintenance record entries.
6.    Maintenance Record Entries
Maintenance record entries merupakan pencatatan pada static balance report.

4.1.1 Reason for The Job
Salah satu tujuan utama dilakukannya Static balance pada Fixed Pitch Propeller Cessna 172S adalah untuk memastikan bahwa propeller tidak mengalami getaran pada saat saat pesawat beroperasi.
Gambar 4.2 Static balance pada fixed pitch propeller Cessna 172S
4.1.2 Job Set-up Information
Tools dan equipment untuk melakukan static balance
1.      Horizontal static balance
          
Gambar 4.3 Suspension Cable

Gambar 4.4 Ballancing Arbor

Gambar 4.5 Open Ring 3/4

2.       Vertical Static Ballace

     
Gambar 4.6 Vertical Static balance tampak depan
 
Gambar 4.7 Vertical Static balance tampak samping

4.1.3 Job Set-up
Pada proses ini semua equipment di gabung menjadi satu kesatuan menggunakan tool yang telah disediakan
Gambar 4.8 Penyatuan Balance Arbor dan Suspension Cable
     
Gambar 4.9 Pemasangan Propeller pada ballance arbor



4.1.4 Procedure
NOTE : Use an anceptable method to establish correc static balance of propeller
NOTE : Check propeller for static balance using suitable balancing equipment which has a sensitifiti within 0,6 inch-ounches (4,24 Mn M (millinewton meter )). Working in a room free from air current.  Check balance as follows :
1.      Propeller with lead balance holes and balance weight hole

a.       Propeller with lead balance hole
1.      Clean and paint lead balance holes with 1 coat TT-P-1757 primer)
2.      Balance horizontally, add lead wool as necessary to appropriate hole. Family pack the lead with a hammer and punch. Paint whole and wool with primer.

b.        Propeller with balance weight hole (side of hub)
1.      Balance vertically, add weight as necessary, refer to table 509 and 510 for maximum number of weight, part numbers, and appropriate screws.
2.      Torque screw 30-36 inch pounds (3.39 to 4.04 N.m) and secure with 0,030 in. (0,76 mm) corrosion resistance look wire.

Gambar 4.10 Lead Balance and Balance Weight

4.1.5        Close-up
Lepaskan propeller dari balance arbor lalu tempatkan di meja propeller untuk dilakukan proses selanjutnya.
Gambar 4.11 Propeller setelah Static Ballance

4.1.6        Maintenance Record Entries
Catat hasil static balance pada log book yang sediakan
Gambar 4.12 Static Ballace Report




BAB V
PENUTUP

5.1 KESIMPULAN
1.      Ballancing pada propeller ad dua jenis yaitu, static balance dan dynamic balance, static balance di lakukan di tempat yang memiliki AMO sedangkan dynamic balance dilakukan di Landasan.
2.      Static balance pada fixed pitch propeller dilakukan untuk menghindari getaran pada propeller saat pesawat beroperasi.
5.2 SARAN
1.      Sebelum melakukan static balance periksa semua tools yang digunakan dan pastikan semua tools tersebut berfunggsi dengan baik
2.      Saat melakukan static balance pastikan dilakukan oleh orang yang memiliki license dan berpengalaman.
3.      Catat hasil static balance di log book yang telah disediakan.






No comments:

Post a Comment

LAPORAN TUGAS AKHIR STUDI ATAS PERAWATAN ENGINE FIRE EXTINGUISHER BOTTLE PADA PESAWAT BOEING 737 MAX HENDLORD JESRANO ...