Thursday, August 29, 2019


LAPORAN TUGAS AKHIR



STUDI ATAS PERAWATAN ENGINE FIRE EXTINGUISHER BOTTLE PADA PESAWAT BOEING 737 MAX



HENDLORD JESRANO RAGOWINO
1670550012












PROGRAM STUDI RANGKA PESAWAT TERBANG
AKADEMI TEKNOLOGI AERONAUTIKA SILIWANGI BANDUNG

2019


LAPORAN TUGAS AKHIR


STUDI ATAS PERAWATAN ENGINE FIRE EXTINGUISHER BOTTLE PADA PESAWAT BOEING 737 MAX


Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat
Untuk Memperoleh Gelar Ahli Madya



HENDLORD JESRANO RAGOWINO
1670550012










PROGRAM STUDI RANGKA PESAWAT TERBANG
AKADEMI TEKNOLOGI AERONAUTIKA SILIWANGI BANDUNG

2019

PERNYATAAN ORISINALITAS


Dengan ini menyatakan bahwa Tugas Akhir ini merupakan hasil karya sendiri, bukan merupakan tiruan atau duplikasi dan semua sumber baik yang dikutip maupun dirujuk telah saya nyatakan benar. Demikian pernyataan ini saya buat dengan sebenar-benarnya tanpa ada paksaan dari siapapun


Nama                 : Hendlord Jesrano Ragowino
NRP                  : 1670550012
Tanggal             :    Agustus 2019
Tanda Tangan   : .....................

LEMBAR PENGESAHAN



Laporan Tugas Akhir
 STUDI ATAS PERAWATAN ENGINE FIRE EXTINGUISHER BOTTLE PADA PESAWAT BOEING 737 MAX
Disusun oleh :
HENDLORD JESRANO RAGOWINO
1670550012
Telah Disetujui dan Disahkan sebagai Laporan Tugas Akhir
Diploma Tiga Akademi Teknologi Aeronautika Siliwangi
Menyetujui,
Pembimbing Utama
Pembimbing Pendamping



Novan Ariadi, ST., MT
NIK/NIDN: 440921792
Ir. Dwi Margono
NIK/NIDN : 44651201

Mengesahkan,
Kabid Akademik, Kemahasiswaan dan Komunikasi
   Ketua Prodi Rangka Pesawat Terbang



Sani Sanjaya, ST., MT
NIK/NIDN : 446512002
Ir. Dwi Margono
NIK/NIDN : 44651201

Ditetapkan di : Bandung
Tanggal Ujian :  Agustus 2019


PRAKATA

Segala puja dan puji syukur penulis ucapkan kepada Tuhan yang Maha Kuasa, karena berkat rahmat dan hidayah-Nya penyusunan Laporan Tugas Akhir yang berjudul STUDI ATAS PERAWATAN ENGINE FIRE EXTINGUISHER BOTTLE PADA PESAWAT BOEING 737 MAXdapat terlaksana dengan baik. Tugas Akhir ini disusun dalam rangka memenuhi salah satu syarat kelulusan program Diploma III Studi Rangka Pesawat Terbang Akademi Teknologi Aeronautika Siliwangi Bandung.
Penyusunan Laporan Tugas Akhir ini, dengan mengambil dari berbagai referensi, kemudian diterjemahkan dalam Bahasa Indonesia bukanlah hal yang mudah bagi penulis. Laporan ini masih terdapat istilah-istilah asing yang sengaja tidak diterjemahkan kedalam Bahasa Indonesia karena istilah-istilah tersebut umum dipergunakan di dalam dunia penerbangan. Pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada semua pihak yang telah membantu, membimbing dan memberikan bantuan baik secara moril maupun materi sehingga penulisan Laporan Tugas Akhir ini dapat diselesaikan.
Ucapan rasa hormat dan terima kasih penulis sampaikan kepada :
1.      Tuhan yang Maha Kuasa yang telah melancarkan penulis dalam menyelesaikan Tugas Akhir ini.
2.      Bapak Samuel Sadi Marawali (Alm) dan Ibu Tresia Kutika selaku orang tua tercinta yang telah banyak berkorban dari segi materil, moril dan spiritual kepada penulis.
3.      Bapak Ir. Aji Jatmika Atmawijaya, MT, selaku Direktur Akademi Teknologi Aeronautika Siliwangi Bandung. Sekaligus sebagai pembimbing Tugas Akhir.
4.      Bapak Novan Ariadi, ST,MT, selaku dosen Pembimbing I (Utama) dalam penyusunan dan penulisan Tugas Akhir ini.
5.      Bapak Ir. Dwi Margono, selaku Ka. Prodi dan Pembimbing II dalam penyusunan dan penulisan Tugas Akhir ini.
6.      Bapak Sani Sanjaya, ST, MT, selaku Kabid Akademik, Kemahasiswaan dan Komunikasi.
7.      Bapak Ir. Adang Rahmat, selaku Kabid Adm, Keuangan dan Kerumahtanggaan.
8.      Bapak Drs. Elyas Faisal, MT, selaku Dosen Wali Kelas Angkatan 2016.
9.      Seluruh Dosen dan Staff Akademi Teknologi Aeronautika Siliwangi Bandung yang telah memberikan ilmu yang sangat bermanfaat kepada penulis.
10.  Rekan-rekan angkatan tahun 2016 tercinta yang telah bersama dan berjuang di kampus Akademi Teknologi Aeronautika Siliwangi Bandung.
11.  Alumni ATAS yang telah membantu memberikan dukungan segi moril, dan spiritual kepada penulis.
12.  Sahabat-sahabat saya (Fikri, Ghani,Evan,Agung,Asep, Rizki, Dwiky, Melky) yang sudah memberikan semangat kepada penulis.
13.  Semua pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu, tanpa mengurangi rasa hormat penulis mengucapkan terima kasih banyak atas segala bantuan dan kebaikannya.
Semua rasa syukur ini akhirnya kembali kepada Tuhan yang Maha Kuasa. Semoga amal baik Bapak/Ibu/Saudara/i mendapat imbalan dan pahala yang berlipat ganda dari Tuhan yang Maha Kuasa. Penulis menyadari bahwa laporan ini jauh dari sempurna. Walaupun demikian penulis berharap ini dapat bermanfaat bagi para pembaca pada umumnya dan khusunya bagi penulis.
Bandung,     Agustus 2019

Penulis


PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI TUGAS AKHIR UNTUK KEPENTINGAN AKADEMI 

Sebagai civitas akademik Akademi Teknologi Aeronautika Siliwangi Bandung, saya yang bertanda tangan di bawah ini :
Nama                        : Hendlord Jesrano Ragowino
NRP                         : 1670550012
Program studi          : Rangka Pesawat Terbang
Jenis Karya              : Tugas Akhir

Demi pengembangan ilmu pengetahuan, menyetujui untuk memberikan kepada Akademi Teknologi Aeronautika Siliwangi Bandung Hak Bebas Royalti Noneksklusif (Non-exclisive Royalty Free Right) atas karya ilmiah saya yang berjudul : STUDI ATAS PERAWATAN ENGINE FIRE EXTINGUISHER BOTTLE PADA PESAWAT BOEING 737 MAX, beserta perangkat yang ada (jika diperlukan). Dengan Hak Bebas Royalti ini Akademi Teknologi Aeronautika Siliwangi Bandung berhak menyimpan, mengalih, dan mempublikasikan Tugas Akhir saya selama tetap mencantumkan nama saya sebagai penulis/pencipta dan sebagai pemilik Hak Cipta.
Demikian pernyataan ini saya buat dengan sebenarnya.


Bandung,     Agustus 2019
                                                                               Yang menyatakan,

Hendlord Jesrano Ragowino


ABSTRAK 

Nama   :   Hendlord Jesrano Ragowino
NIM    :   1670550012
Judul   : Studi Atas perawatan engine fire extinguisher bottle pada pesawat boeing 737 MAX

Pesawat udara merupakan alat transportasi berteknologi canggih, yang mengutamakan keselamatan dan kehandalan, oleh karena itu pesawat udara dituntut agar tetap dalam kondisi laik operasi, maka komponen pendukung performa pesawat tidak luput dari perawatan rutin dan terjadwal. Salah satunya adalah engine fire extinguisher bottle yaitu suatu komponen yang digunakan untuk menyimpan fire extinguisher agent berupa halon yang berfungsi untuk memadamkan api pada engine pesawat udara.
Kondisi terbang serta jam operasional suatu pesawat dapat mempengaruhi kinerja engine fire extinguisher bottle untuk itu Engine fire extinguisher bottle harus selalu di perhatikan perawatannya agar dapat berfungsi dengan baik, salah satunya harus dilakukan hydrostatic test untuk memastikan apakah bottle masih beroperasi sesuai dengan fungsinya.
Dengan dilakukannya hydrostatic test pada engine fire extinguisher bottle maka dapat meningkatkan nilai safety pada pesawat udara.
Kata Kunci : Engine fire extinguisher bottle, hydrostatic test    

ABSTRACT 

Name   :  Hendlord Jesrano Ragowino
NIM    :  1670550012
Title   :  Study Of Maintenance Of The Fire Extinguisher Bottle Engine On The Boeing 737 MAX

               The aircraft is a sophisticated means of transportation, which prioritizes and reliability, therefore the aircraft are required to remain in operation-worthy condition, then the components that support the performance there of routine and unscheduled maintenance. One of them is a bottle fire extinguisher which is a component used to store a fire extinguisher is a halon that is used to extinguish fire in aircraft engines.
 
               Roaming conditions and flight hours of an aircraft can affect the performance of the engine fire extinguisher bottle for that Engine fire extinguisher bottle must always pay attention to maintenance in order to function properly, one of which must be done hydrostatic tests to ensure whether the bottle is still operating in accordance with its function.
 
By doing a hydrostatic test on the engine fire extinguisher bottle it can increase the safety value on aircraft.
Key Word : Engine fire extinguisher bottle, hydrostatic test      

CURRICULUM VITAE


PERSONAL DETAILS
Name                           : Hendlord Jesrano Ragowino
Place/Birth date          : Waikabubak, July 4, 1998
Gender                        : Male
Religion                      : Kristen Protestant
Hight                           : 172 cm
Weight                        : 58 kg
Status                          : Single/Student
Address                       : Perum Matra Persada No 10 RT 05 RW 06, Kecamatan Cimahi Utara, Kota Cimahi
E-mail                          : ragowino98@gmail.com
Phone                         : 082127138950

EDUCATION BACKGROUND
Periode
Level
School Name
Majoring
2004 - 2010
Elementary School
SDN Negeri Pangadu Rade Waikabubak

2010 - 2013
Junior High School
SMP Katolik Stella Maris Waikabubak

2013 - 2016
Vocational High School
SMA Negeri 1 Waikabubak
Social Science
2017
High School Equality
PKBM Siliwangi
Natural Sciences
2016 - 2019
Diploma 3 (in the process of final assigment)
Akademi Teknologi Aeronautika Siliwangi Bandung
Airframe

EXPERIENCE
·         Mei 14, 2018 Juli 14 2018                           : On Job Training at PT. Mulya Sejahtera Technology
·         January 6, 2019 - March 11, 2019                  : On Job Training at PT. Rekatama Putra Gegana Aviation
OTHER SKILL
·         Discipline hard working, team work and conscientious
·         Highly motivated, communication skill, able to use hand tools
·         Wiling to work under high pressure
·         Can operate internet and Microsoft office


DAFTAR ISI




DAFTAR GAMBAR





ABREVATION


AMM
Aircraft Maintenance Manual
AMO
Approval Maintenance Organization
AOC
Air Operator Certificate
APU
Auxiliary Power Unit
APD
Alat Pelindung Diri
CAA
Civil Aviation Authority
CASR
Civil Aviation Safety Regulation
C
Caution
CO2
Carbon Dioxide
DOT
Depertement Of Transportation
ESDS
Electrostatic Discharge Sensitive 
FAA
Federation Aviation Administration
OVHT
Overheat
HRD
High Rate of Discharge System
HALON
Halogenated Hydrocarbon
SDS
System Description Section
N2
Nitrogen
W
Warning

BAB I

PENDAHULUAN


1.1  Latar Belakang

                 Pesawat terbang merupakan alat transportasi udara yang aman dan handal, yang dilengkapi dengan sistem pengaman salah satunya yaitu dengan dilengkapi fire extinguisher yang merupakan alat pemadam bila terjadi kebakaran. Kebakaran ini bisa terjadi akibat dari tiga kompenen atau biasa kita kenal dengan triangle of fire yang mencakup bahan bakar (fuel), energi panas, dan oksigen. Reaksi ketiganya dapat menyebabkan nyala api, apabila salah satu dari ketiga komponen tersebut berkurang maka api akan padam dengan sendirinya.
                 Sebagai bukti bahwa pesawat terbang adalah transportasi udara yang aman bisa dilihat banyak sekali aturan-aturan atau undang-undang yang berhubungan dengan keselamatan, serta banyaknya manual-manual yang di keluarkan oleh manufacture, baik untuk inspection, maintenance ataupun untuk repair, seperti AMM (Aircraft Maintenance Manual), SRM (Structure Repair Maintenace) dan CMM (Component Maintenance Manual).
                 Untuk mendukung keselamatan suatu pesawat terbang maka setiap sistem yang digunakan oleh pesawat terbang harus bisa berjalan dengan baik dan sesuai dengan yang diinginkan. Oleh karena itu, pesawat terbang memerlukan perawatan yang teratur, terjadwal dan sesuai dengan regulasi yang telah ditentukan oleh pihak authority. Seperti halnya engine fire extinguishing system yaitu suatu sistem yang berfungsi untuk memadamkan api jika terjadi kebakaran pada engine pesawat terbang. dimana sistem ini menggunakan dua buah botol fire extinguisher yang tersimpan di main wheel well yang di operasikan secara manual dengan cara menarik fire handle switch yang berada di cokpit. Fire extinguisher bottle merupakan suatu tabung yang berisi fluida yaitu fire extinguishing agent yang berfungsi untuk memadamkan api. Dengan adanya engine fire extinguishing system pada pesawat terbang, maka suatu sistem pada pesawat terbang akan semakin lengkap untuk mendukung pengoperasian pesawat terbang yang aman dan nyaman. Untuk itu diperlukan perawatan yang tepat dan sesuai dengan manual yang telah ditentukan agar pengoperasian dari engine fire extinguishing system dapat berfungsi dengan optimal.
                 Mengingat hal tersebut diatas penting, maka penulis tertarik untuk membahas dalam Tugas Akhir ini yang berjudul Studi Atas perawatan engine fire extinguisher bottle pada pesawat Boeing 737 MAX. Selain itu, penulis juga ingin memperoleh suatu gambaran objek yang dapat mengintegrasikan ilmu-ilmu yang pernah penulis peroleh selama kuliah di Akademi Teknologi Aeronautika Siliwangi (ATAS) Bandung, yang pada akhirnya ilmu tersebut akan mempermudah penulis untuk beradaptasi di lingkungan kerja nantinya

1.2  Tujuan Penulisan Tugas Akhir

Tujuan penulisan Tugas Akhir ini diantaranya sebagai berikut :
1.      Sebagai evaluasi akhir selama mengikuti pendidikan sebelum terjun kedalam dunia kerja serta sebagai referensi dan pandangan pada saat bekerja nanti.
2.      Menuliskan ilmu pengetahuan yang telah didapat selama masa pendidikan di kampus dan selama menjalani Praktek Kerja Lapangan (PKL), menjadi sebuah karya ilmiah yang dapat dipertanggung- jawabkan.
3.      Sebagai salah satu persyaratan untuk menyelesaikan pendidikan dan persyaratan pelaksanaan sidang kelulusan untuk mendapatkan gelar Ahli Madya (AMd) Prodi Rangka Pesawat Terbang.
4.      Diharapkan karya tulis yang disusun oleh penulis bisa bermanfaat bagi penulis dan bagi pembaca.
Disamping itu Tugas Akhir ini bertujuan untuk :
1.      Memperdalam suatu cakupan materi yang lebih dikhususkan pada bidang perawatan pesawat terbang baik airframe, engine dan fire protection system.
2.      Memperdalam cakupan pemeliharaan pesawat terbang khususnya pemeliharaan tentang engine fire extinguisher bottle agar engine fire extinguisher bottle dapat berfungsi dengan baik dalam proses pemadaman api jika sewaktu-waktu terjadi kebakaran
3.      Sebagai pengetahuan dan pemahaman metode perawatan engine fire extinguisher bottle dengan menggunakan metode Hydrostatic Test.

1.3  Rumusan Masalah

Untuk mencapai tujuan yang telah dikemukakan sebelumnya, maka penulis harus:
1.      Mengetahui prinsip kerja engine fire extinguishing system
2.      Mengerti dan Faham komponen dari engine fire extinguisher bottle untuk Boeing 737 MAX
3.      Mengerti cara-cara perawatan dari engine fire extinguisher bottle

1.4  Metode Pengumpulan Data

Dalam penyusunan Tugas Akhir, penulis menempuh metodologi penyusunan dengan cara sebagai berikut :

1.1.1        Metode Konsultasi

            Penulis melakukan konsultasi dengan Dosen pembimbing dan semua pihak yang dapat membantu dalam penyusunan Tugas Akhir.

1.1.2        Studi Pustaka

Studi pustaka ini penting bagi penulis karena penulis tidak melaksanakan perawatan ini secara langsung maka, dengan mempelajari dan memahami referensi yang ada seperti AMM, dan referensi-referensi lain yang berhubungan dengan Tugas Akhir ini dan juga dari buku mata kuliah maupun media internet/jurnal yang resmi diharapkan bisa menyelesaikan Tugas Akhir ini tepat waktu.

1.5  Batasan Masalah

Pada uraian di poin 1.1 telah penulis uraikan secara singkat tentang fire extinguishing system, untuk menghindari meluasnya pembahasan tentang perawatan pada pesawat terbang, maka penulis akan membatasi permasalahan dengan menitik beratkan pada pembahasan tentang studi atas perawatan engine fire extinguisher bottle pesawat boeing 737 MAX

1.6  Kegunaan Penulisan

Dari penulisan Tugas Akhir ini diharapkan dapat memberikan manfaat bagi pihak-pihak yang terkait, yaitu :

1.1.3        Bagi Penulis

            Hasil penulisan ini dapat meningkatkan wawasan serta pengetahuan penulis tentang perawatan pesawat terbang dan komponennya khususnya tentang perawatan engine fire extinguisher bottle dan perawatan sistem pada umumnya.

1.1.4        Bagi Institusi Akademik

Merupakan bentuk partisipasi dari Akademik untuk membantu pihak-pihak lain yang ingin mengadakan kerja sama dalam bidang penyiapan dan penyerapan tenaga kerja khususnya tentang perawatan pesawat terbang.

1.1.5        Bagi Pihak Lain

Hasil dari penulisan ini diharapkan dapat memberikan informasi yang bermanfaat dan dapat dijadikan referensi dalam melakukan penulisan lebih lanjut.

1.7  Sistematika Penulisan

Sistematika penulisan yang dipakai penulis dalam menyusun Tugas Akhir   ini terbagi menjadi beberapa BAB, yait
BAB I   PENDAHULUAN
Pada BAB I merupakan pengantar dari pembuatan Tugas Akhir yang membahas tentang latar belakang, tujuan penulisan, rumusan masalah,   metode  pengumpulan data, batasan masalah serta sistematika penulisan Tugas Akhir.
BAB II   TINJAUAN UMUM   PESAWAT BOEING 737 MAX DAN FIRE PADA BOEING 737 MAX
Pada BAB II membahas mengenai tiga aspek penyebab terjadinya api dan tinjauan umum pengetahuan dasar mengenai hal-hal yang akan mencakup dalam pengenalan pesawat Boeing 737 MAX, aircraft section, fire extinguishing system pada pesawat Boeing 737 MAX.
BAB III FIRE PROTECTION SYSTEM PADA PESAWAT BOEING 737 MAX
Pada BAB III membahas tentang fire protection system, yang mencakup fire detection dan fire extinguishing pada pesawat Boeing 737 MAX.
BAB IV PERAWATAN ENGINE FIRE EXTINGUISHER BOTTLE PADA PESAWAT BOEING 737 MAX
Pada BAB IV membahas mengenai perawatan Engine fire extinguisher bottle pada pesawat boeing 737 MAX
BAB V PENUTUP
Pada Bab V ini berisikan kesimpulan dan saran berdasarkan hasil yang penulis pelajari dari studi atas perawatan engine fire extinguisher bottle pada pesawat Boeing 737 MAX.
 

BAB II

TINJAUAN UMUM PESAWAT BOEING 737 MAX DAN FIRE PADA BOEING 737 MAX

2.1 Tinjauan Umum Pesawat Boeing 737-MAX

Pesawat Boeing 737 MAX adalah sebuah pesawat berbadan kecil dari Amerika, yang di design dan di produksi oleh Boeing Commercial Airplane yang menjadi generasi keempat dari pesawat Boeing 737, penerus setelah pesawat Boeing 737 Next Generation (NG).
Generasi terbaru Boeing 737 diperkenalkan pada 30 Agustus 2011, diuji terbang pertama kali pada 29 januari 2016, Series baru ini di sertifikasi oleh FAA pada 8 maret 2017, dan pesawat tipe MAX 8 pertama kali di kirim kepada konsumen pada 6 May 2017 yaitu kepada Malindo Air. Boeing 737 MAX mempunyai bentuk dasar yang sama dengan pesawat Boeing 737 sebelumnya, namun pesawat ini menggunakan engine baru yang lebih efisien yaitu engine CFM International LEAP-1B, peningkatan pada aerodynamic, dan modifikasi pada strukturnya.

Gambar 2.1 Pesawat Boeing 737 MAX

( Sumber : https://www.boeing.com/commercial/737max/  )
Pesawat Boeing 737 MAX mempunyai empat varian Boeing 737 MAX 7, MAX 8, dan MAX 9 serta MAX 10 yang menggantikan Boeing 737-700, Boeing 737-800, Boeing 737-900, dan tambahan tipe yang lebih panjang yaitu Boeing 737 MAX 10.
Tabel 2.1 Boeing 737 MAX Series
( Sumber: https://www.boeing.com/commercial/737max/ )


2.1.1  Spesifikasi Pesawat Boeing 737 MAX

Spesifikasi Pesawat Boeing 737 MAX berdasarkan Aircraft Maintenance Manual (AMM), berikut data dimensi dari Pesawat Boeing 737 MAX :
Table 2.2 Spesifikasi Pesawat Boeing 737 MAX
SPESIFIKASI

Boeing 737 MAX 8
Boeing 737 MAX 9
Height (to top of vertical stabilizer)
1) Minimum 38.94 ft (11.87 m).
2) Maximum 40.75 ft (12.42 m).
1) Minimum 39.00 ft (11.89 m).
2) Maximum 40.67 ft (12.40 m).
Length (nose to aft tip of horizontal stabilizer)
129.67 ft (39.52 m).
137.00 ft (41.76 m).
Width (winglet tip to winglet tip)
117.83 ft (35.91 m).
117.83 ft (35.91 m).
Engine to Ground Distance
1)      Minimum 16.6 in. (0.42 m).
2)      Maximum 21.4 in. (0.54 m).
1)      Minimum 16.4 in. (0.42 m).
2)      Maximum 21.4 in. (0.54 m).
Fuselage to engine distance (centerline of fuselage to centerline of engine)
15.92 ft (4.85 m).
Ground to top of fuselage
1) Minimum 16.7 ft (5.09 m).
2) Maximum 18.1 ft (5.52 m).
Length Fuselage (nose to tail end of body)
128.33 ft (39.11 m).
137.00 ft (41.76 m).
Wheel base landing gear
51.17 ft (15.60 m).
56.33 ft (17.17 m).
Landing Gear Track
18.75 ft (5.72 m).
Nose landing gear offset
13.42 ft (4.09 m).
Width Fuselage
12.33 ft (3.76 m).
Horizontal Stabilizer
1. Aspect ratio 6.16
2. Span (projected) 47.08 ft (14.35 m).
3. Tip chord 2.55 ft (0.78 m).
4. Dihedral (stabilizer reference plane in relation to the body reference plane) 7 degrees.
5. Taper ratio 0.203.
6. Sweep (25 percent chord line) 30 degrees
Vertical Stabilizer
1.  Aspect ratio 1.94.
2.  Height 23.50 ft (7.16 m).
3. Root chord 19.05 ft (5.81 m).
4. Taper ratio 0.271.
5. Sweep 35 degrees.
Wing

1. Aspect ratio 9.45.
2. Span 112.57 ft (34.31 m).
3. Root chord (at body centerline):
    a) Basic chord 25.83 ft (7.87 m).
    b) Trapezoidal chord 18.75 ft (5.72 m).
4. Mean aerodynamic chord (basic wing only) 13 ft (3.96 m).
5. Tip chord 4.1 ft (1.25 m).
6. Dihedral (wing reference plane in relation to the body reference plane) 6.00 degrees.
7. Taper ratio:
    a) Tip chord/trapezoidal root chord 0.219.
8. Sweep (25 percent chord line) 25.03 degrees
Winglet
1. Height above ground (lower winglet blade tip):
    a) Minimum 9.26 ft (2.82 m).
    b) Maximum 10.27 ft (3.13 m).
2. Height above ground (upper winglet blade tip):
    a) Minimum 18.35 ft (5.59 m).
    b) Maximum 19.90 ft (6.07 m).
Area
 Horizontal stabilizer area  352.8 ft2 (32.78 m2).
Vertical stabilizer area 284.6 ft2 (26.44 m2).
Wing basic area  1341 ft2 (124.58 m2).
  ( Sumber: https://www.boeing.com/commercial/737max/ )

Table 2.3 Characteristics Boeing 737 MAX
Variant
737 MAX 7
737 MAX 8
737 MAX 9
737 MAX 10
Seating
153 (8J + 145Y) to 172 max
178 (12J + 166Y) to 200 max
193 (16J + 177Y) to 220 max
204 (16J + 188Y) to 230 max
28–29 in (71–74 cm) in high density, 29–30 in (74–76 cm) in economy, 36 in (91 cm) in business
Cargo capacity
1,139 cu.ft / 32.3 m3
1,540 cu.ft / 43.6 m3
1,811 cu.ft / 51.3 m3
1,961 cu.ft / 55.5 m3
Length
116 ft 8 in / 35.56 m
129 ft 6 in / 39.47 m
138 ft 4 in / 42.16 m
143 ft 8 in / 43.8 m
Wing
117 ft 10 in / 35.92 m span, 1,370 sq ft (127 m2) area
Overall height
40 ft 4 in / 12.3 m
177,000 lb / 80,286 kg
181,200 lb / 82,191 kg
194,700 lb / 88,314 kg
197,900 lb / 89,765 kg
Maximum Payload

46,040 lb / 20,882 kg



99,360 lb / 45,070 kg


Fuel capacity
6,820 USgal / 25,816 L - 45,694 lb / 20,730 kg (no ACT)
Engine (× 2)
CFM International LEAP-1B, 69.4 in (176 cm) Fan diameter, 26,786–29,317 lbf (119–130 kN)
Cruising speed
Mach 0.79 (453 kn; 839 km/h)
Range
3,850 nmi / 7,130 km
3,550 nmi / 6,570 km
3,550 nmi / 6,570 km
3,300 nmi / 6,110 km
Ceiling
41,000 ft (12,000 m)
Takeoff (ISA, SL, MTOW)

8,300 ft (2,500 m)
8,500 ft (2,600 m)

Landing (SL, MLW)

5,000 ft (1,500 m)
5,500 ft (1,700 m)

ICAO Type
B37M
B38M
B39M
B3XM
(sumber : https://en.wikipedia.org/wiki/Boeing_737_MAX)


Gambar 2.2 Dimensi dan Area Pesawat Boeing 737 Max

( Sumber : Aircraft Maintenance Manual Boeing 737 MAX-Chapter 6 )

Gambar 2.3 Dimensi dan Area Pesawat Boeing 737 MAX

 ( Sumber : Aircraft Maintenance Manual Boeing 737 MAX-Chapter 6 )

Gambar 2.4 Dimensi dan Area Pesawat Boeing 737 MAX

 ( Sumber : Aircraft Maintenance Manual Boeing 737 MAX-Chapter 6 )


Gambar 2.5 Dimensi dan Area Pesawat Boeing 737 MAX

( Sumber : Aircraft Maintenance Manual Boeing 737 MAX-Chapter 6 )


2.1.2        Zona pada pesawat Boeing 737 MAX

Guna penyederhanaan penunjukan semua letak komponen, bagian utama sesuatu yang dipasang pada pesawat terbang. Khususnya untuk keperluan perawatan, inspeksi, repair ataupun modifikasi pada pesawat. Maka setiap manufacture pesawat akan mengeluarkan system zoning. Zona dibentuk atas tiga indicator penomoran tergantung dimana komponen yang dipilih, antara lain:
a.      Mayor zone
b.      Mayor subzone
c.       Unit zone
Karena banyak dari bagian pesawat mempunyai bentuk yang similar, maka untuk mempermudah pada bagan kanan menggunakan angka genap sedangkan yang kiri menggunakan angka ganjil. Berdasarkan referensi dari AMM, zone area pada pesawat Boeing 737 MAX dibagi kedalam zone location sebagai berikut :
a.      Zone 100 - Fuselage Lower Section
b.      Zone 200 ­– Fuselage Upper Section
c.       Zone 300 – Empenage
d.      Zone 400 – Power Plant
e.       Zone 500 – Left Wing Outer
f.        Zone 600 – Right Wing Outer
g.      Zone 700 -  Landing Gear
h.      Zone 800 – Crew door, cargo door, emergency door and paratroop door

Gambar 2.6 Major Zona Pesawat Boeing 737 MAX

(Sumber : Aircraft Maintenance Manual Boeing 737 MAX-Chapter 6)

Gambar 2.7 Major Zone 100 Lower Half of Fuselage

( Sumber : Aircraft Maintenance Manual Boeing 737 MAX-Chapter 6 )

Gambar 2.8 Major Zone 200 Upper Half of Fuselage

 ( Sumber : Aircraft Maintenance Manual Boeing 737 MAX-Chapter 6 )

Gambar 2.9 Major Zone 300 Empenage and Body Section (Sheet 1)

 ( Sumber : Aircraft Maintenance Manual Boeing 737 MAX-Chapter 6 )

Gambar 2.10 Major Zone 300 Empenage and Body Section (Sheet 2)

( Sumber : Aircraft Maintenance Manual Boeing 737 MAX-Chapter 6 )

Gambar 2.11 Major Zone 400 Power Plant

 ( Sumber : Aircraft Maintenance Manual Boeing 737 MAX-Chapter 6 )

Gambar 2.12 Major Zone 500 Left and Right Wing

 ( Sumber : Aircraft Maintenance Manual Boeing 737 MAX-Chapter 6 )

Gambar 2.13 Major Zone 700 Landing Gear

 ( Sumber : Aircraft Maintenance Manual Boeing 737 MAX-Chapter 6 )

Gambar 2.14 Major Zone 800 Crew Door, Cargo Door, Emergency Door and Paratroop Door

 ( Sumber : Aircraft Maintenance Manual Boeing 737 MAX-Chapter 6 )

2.2      Airworthiness dan Maintenance Standard

2.2.1  Laik Terbang (Airworthy)

Ada dua persyaratan yang harus dipenuhi pesawat terbang untuk dapat dinyatakan laik terbang, yaitu:
1.         Pesawat harus sesuai dengan sertifikat desainnya “Original Certificate
2.         Pesawat harus dalam keadaan aman beroperasi.
Tanggung jawab Air Operator atas aiworthiness pesawat tertera pada aturan berikut :
a.         CASR 121.363. setiap pemegang sertifikat air operator atau Air Operator Certificate (AOC) adalah penanggung jawab utama atas airworthiness pesawat dan pelaksanaan dari maintenance, preventive maintenance, dan alteration sesuai dengan CASR (Civil Aviation Safety Regulation) 43.
b.         Setiap pemegang sertifikat air operator harus melakukan program inspeksi dan program penanganan semua perawatan dan pekerjaan alteration untuk meyakinkan semua pekerjaan dilaksanakan olehnya, atau oleh pihak lain, yang dilakukan sesuai dengan “Certificate holder’s manual” dan “Approved continuous airworthyness maintenance program”. Pemegang sertifikat atau pihak lain yang melakukan pekerjaan harus memenuhi persyaratan CASR part 145.
Maskapai atau operator harus menyadari tanggung jawab mereka terhadap pemerintah Directorate General of Civil Aviation (DGCA) Indonesia, masyarakat atau penumpang untuk kebutuhan pesawat terpelihara dengan baik, handal, dan aman. Standar mutu pesawat terbang diarsipkan melalui sertifikasi oleh otoritas atau lembaga yang mengatur dalam dunia penerbangan.
Dasar untuk memelihara pesawat dalam kondisi laik terbang tercantum pada CASR:
1)        part 21   Certification Procedures for Products and part
2)        part 23   Airworthiness Standards: Normal, Utility, Acrobatic, and Commuter Category Airplanes
3)        part 25   Airworthiness Standards: Transport Category Airplane
4)        part 33   Aircraft Engines
5)        part 39   Airworthiness Directives
6)        part 43   Maintenance, Preventive Maintenance, Rebuilding and
Alteration
7)        part 65  Certification: Airman Other Than Flight Crewmembers
8)        part 91  General Operating and Flight Rule

2.2.2        Standar Perawatan (Maintenance Standard)

Untuk memenuhi persyaratan airworthy, perusahaan penerbangan harus melakukan maintenance standard, yaitu perawatan-perawatan minimum untuk menyiapkan pesawat yang aman dan lebih terpercaya, berdayaguna tinggi, sehingga pilot lebih percaya diri dalam menerbangkannya.
Setiap pesawat terbang selama beroperasi pasti mempunyai jadwal untuk perawatan. Perawatan ini harus dilakukan karena setiap komponen mempunyai batas usia tertentu sehingga komponen tersebut harus diganti. Selain itu, komponen juga harus diperbaiki bila ditemukan telah mengalami kerusakan. Secara garis besar, program perawatan dapat dibagi menjadi dua kelompok besar, yaitu perawatan preventif dan korektif.
2.2.2.1  Perawatan Preventif
                 Perawatan preventif adalah perawatan yang mencegah terjadinya kegagalan komponen sebelum komponen tersebut rusak. Perawatan preventif dapat dibagi menjadi 2 (dua) jenis yaitu:
1.        Perawatan periodik atau hard time, merupakan perawatan
yang dilakukan berdasarkan batas waktu dari umur
maksimum suatu komponen pesawat. Dengan kata lain,
perawatan ini merupakan perawatan pencegahan dengan
cara mengganti komponen pesawat meskipun komponen
tersebut belum mengalami kerusakan.
2.         Perawatan on-condition, merupakan perawatan yang memerlukan inspeksi untuk menentukan kondisi suatu komponen pesawat. Setelah itu ditentukan tindakan selanjutnya berdasarkan hasil inspeksi tersebut. Bila ada gejala kerusakan, komponen tersebut dapat diganti bila alasan-alasan teknik dan ekonominya memenuhi.
2.2.2.2     Perawatan Korektif
Perawatan korektif adalah perawatan yang dilakukan untuk  memperbaiki komponen yang rusak agar kembali pada kondisi awal. Perawatan korektif dikenal pula dengan nama condition monitoring yaitu perawatan yang dilakukan setelah ditemukannya kerusakan pada suatu komponen, dengan cara memperbaiki komponen tersebut. Bila cara perbaikan tidak dapat dilakukan dengan alasan teknik maupun ekonomi, maka harus dilakukan pergantian komponen dengan yang baru.

2.3      Interval Perawatan Pesawat Terbang

Perawatan pesawat biasanya dikelompokkan berdasarkan interval yang sepadan dalam paket-paket kerja atau disebut dengan clustering. Hal ini dilakukan agar tugas perawatan lebih mudah, efektif dan efisien. Interval yang dijadikan pedoman untuk melaksanakan paket-paket tersebut adalah sebagai berikut:

2.3.1        Jam Terbang (Flight Hours)

      Merupakan interval inspeksi yang didasarkan pada jumlah jam operasional suatu pesawat terbang.

2.3.2        Jumlah Siklus Penerbangan (Flight Cycle)

Merupakan interval inspeksi yang didasarkan pada jumlah take-off dan landing yang dilakukan suatu pesawat terbang. Satu kali take-off dan landing dihitung satu siklus.

2.3.3        Calendar Time

Merupakan interval inspeksi yang dilakukan sesuai jadwal tertentu dari jumlah tugas perawatan atau inspeksi yang dilaksanakan.

2.4      Minor Maintenance dan Heavy Maintenance

Dari jumlah tugas perawatan atau inspeksi yang dilaksanakan, maintenance dapat dibagi dalam dua jenis. Yang pertama adalah minor maintenance seperti transit check, before departure check, daily check, weekly check. Sedangkan yang kedua yaitu heavy maintenance seperti A-Check, B-Check, C-Check dan D-Check.

2.4.1        Minor Maintenance

2.4.1.1     Transit Check
Inspeksi ini harus dilaksanakan setiap kali setelah melakukan penerbangan saat transit di bandar udara manapun. Operator biasanya memeriksa pesawat untuk memastikan bahwa pada pesawat tidak terdapat satupun kerusakan struktur, semua sistem berfungsi dengan sebagaimana mestinya, dan servis yang diharuskan telah dilakukan.
2.4.1.2  Before Departure Check
Before departure check atau Preflight check adalah pengecekan yang harus dilakukan sedekat mungkin sebelum tiap kali pesawat berangkat beroperasi, maksimal dua jam sebelumnya.
2.4.1.3  Daily Check (Overnight Check)
Pemeriksaan ini harus dilakukan satu kali dalam jangka waktu 24 jam setelah daily check sebelumnya dilakukan. Setiap hari pesawat telah diprediksi akan parkir minimal selama empat jam. Inspeksi ini mencakup pemeriksaan komponen, pemeriksaan keliling (walk-around inspection) pesawat secara visual untuk mendeteksi ada atau tidaknya kerusakan, melakukan pengamanan lebih lanjut, dan pemeriksaan sistem operasional.
2.4.1.4  Weekly Check
Pemeriksaan ini harus telah dilakukan dalam tujuh hari penanggalan. Termasuk dalam inspeksi ini adalah before departure check.

2.4.2        Heavy Maintenance

1.      A – Check
Dilakukan kira-kira setiap satu bulan. Pemeriksaan ini biasanya dilakukan hingga 10 jam. Pemeriksaan ini bervariasi, bergantung pada tipe pesawat, jumlah siklus (take-off dan landing dianggap sebagai siklus pesawat), atau jam terbang sejak pemeriksaan terakhir. Perawatan pesawat jenis ini hanya dilakukan pemeriksaan untuk memastikan kelaikan mesin, sistem-sistem, komponen-komponen, dan struktur pesawat untuk beroperasi. Untuk Boeing 737 Series, A-Check dilakukan setelah 300 jam terbang, sedangkan pada Airbus A340 setelah 450 jam terbang, dan untuk Boeing 747-200 setelah 650 jam.
2.      B – Check
Bergantung pada masing-masing jenis pesawat, pemeriksaan berkisar antara 9 hingga 28 jam ground time dan biasanya dilakukan kira-kira setiap lima bulan. Perawatan pesawat dalam skala kecil ini hanya meliputi proses pembersihan, pelumasan, penggantian ban apabila sudah aus, penggantian baterai, dan inspeksi struktur bagian dalam.
3.      C – Check
Sebuah pesawat harus melakukan C-Check setelah 15-18 bulan. Tergantung pada tipe pesawat, pemeriksaan ini bisa memakan waktu 10 hari. Perawatan pesawat tipe ini merupakan inspeksi komprehensif termasuk bagian-bagian yang tersembunyi, sehingga kerusakan dan keretakan di bagian dalam dapat ditemukan. Untuk Boeing 737-300 dan 737-500, inspeksi ini dilakukan setiap 4.000 jam terbang. Untuk Boeing 737-400 dilakukan setiap 4.500 jam terbang. Sedangkan untuk Boeing 747-400 dilakukan setiap 6.400 jam terbang, dan Airbus A-330 dilakukan setiap 21 bulan.
4.      D – Check
Inspeksi ini biasa disebut overhaul. Pemeriksaan jenis ini adalah perawatan yang paling detail, untuk pesawat Boeing 737-300, 737-400 dan 737-500, inspeksi ini dilakukan setiap 24.000 jam terbang. Sedangkan untuk Boeing 747-400 dilakukan setiap 28.000 jam terbang dan untuk Airbus A-330 dilakukan setiap 6 tahun. Pada pengecekan jenis ini pesawat diperiksa secara keseluruhan, biasanya menghabiskan waktu satu bulan atau bahkan lebih.

2.5      Fire Protection system

Dalam suatu pesawat terbang kebakaran merupakan sala satu faktor yang sangat berbahaya, oleh karena itu pada pesawat modern dengan double engine di pasang fire protection system yang bersifat tetap (fixed) tetapi ada juga yang disebut portable fire extinguishing.
Fire protection system terdiri dari dua bagian penting yaitu fire detection dan fire extinguishing. Fire detection berfungsi untuk mendeteksi api sedangkan fire extinguishing berfungsi untuk memdamkan api.

2.6      Triangle of Fire

Api adalah suatu reaksi berantai yang berjalan sangat cepat, seimbang, dan kontinyu antara tiga bahan pembentuk api yaitu: bahan bakar, energi panas dan oksigen. Api dan tiga elemen pembentuknya sering digambarkan dengan segitiga api (fire triangle). Fire triangle adalah suatu segitiga sama sisi dimana setiap sisinya diberi nama masing-masing elemen pembentuk api yaitu: bahan bakar (fuel), energi panas (heat), dan oksigen (oxygen). Reaksi antara ketiga elemen tersebut hanya akan menghasikan suatu nyala api apabila kadar elemennya seimbang. Bila salah satu elemennya berkurang, maka nyala api akan padam dengan sendirinya.

Gambar 2.15 Triangle of Fire

( Sumber : Module 7 MAINTENANCE PRACTICES )

Gambar 2.16 Three Elements for Fire

( Sumber : Module 7 MAINTENANCE PRACTICES )


2.7      Type of Fire.

Berdasarkan US National Fire Protection Association (NFPA) Standard 10, jenis-jenis api antara lain:
1.      Class A: Api dari bahan mudah terbakar, seperti kayu, kain, kertas, karet, plastic.  Kebakaran kabin pesawat adalah contoh dari kebakaran Kelas A.
2.      Class B: Api dari fluida kimia, seperti fuel, minyak, tar, cat, solvent, alkohol, gas. Kebakaran kelas B adalah jenis kebakaran yang paling umum dijumpai di sebuah engine nacelle.
3.      Class C: Api dari komponen elektrik. Perhatian khusus harus dilakukan ketika mencoba memadamkan api Kelas C karena bahaya yang ditimbulkan oleh listrik dan api itu sendiri.
4.      Class D: Api dari logam mencair, seperti magnesium, titanium, zirkonium. Karena Api Kelas D Api membakar begitu panas, penggunaan air atau cairan lain pada kebakaran Kelas D menyebabkan api membakar lebih keras atau meledak.
Setiap api memiliki karakteristik yang berbeda-beda dan memerlukan penanganan secara khusus, juga zat pemadam (fire agent) yang berbeda-beda.

2.8      Fire Zone Clasification

Fire zone yaitu ruang atau area di pesawat dilihat dari aliran udara yang ada didalamnya. Area powerplant dibagi menjadi zona api berdasarkan volume dan kehalusan aliran udara melalui compartment engine. Klasifikasi ini memungkinkan pabrikan untuk mencocokkan sistem deteksi dan jenis pemadaman yang akan digunakan dengan kondisi kebakaran, seperti :
1.      Zone A yaitu area dengan udara dengan jumlah besar melewati bagian permukaan pesawat seperti pada engine.
2.      Zone B yaitu area dengan udara dengan jumlah besar melewati bagian permukaan aerodynamic pesawat seperti pada heat exchanger ducts dan exhaust manifold.
3.      Zone C yaitu area dimana udara dengan jumlah relative kecil melewati permukaan pesawat seperti pada engine accessory compartment.
4.      Zone D yaitu area dimana udara dengan jumlah sangat kecil melewati permukaan pesawat seperti wing compartment dan whell wheel.
5.      Zone X yaitu udara dengan jumlah besar melewati permukaan pesawat dan alirannya tidak teratur. Karena aliran udara tidak teratur, zona api Kelas X adalah yang paling sulit untuk dilindungi dari kebakaran. Bahkan, jumlah fire agent yang diperlukan untuk melindungi zona kebakaran Kelas X secara normal dua kali lipat dari yang dibutuhkan untuk zona lainnya. Zona kebakaran Kelas X umum terjadi pada engine nacelles


BAB III

FIRE PROTECTION SYSTEM PADA PESAWAT BOEING 737 MAX


3.1  Fire protection system

Fire protection system adalah suatu sistem terintegrasi yang didesain untuk mendeteksi adanya gejala kebakaran, untuk kemudian memberi peringatan (warning) dalam sistem evakuasi dan ditindak lanjuti secara otomatis maupun manual dengan dengan sistem instalasi pemadam kebakaran.
Deteksi kebakaran dan overheat memonitor pesawat untuk ini kondisi fire, smoke, overheat, Kebocoran saluran pneumatik. Deteksi Kebakaran / overheat pesawat memiliki sistem deteksi kebakaran / overheat berikut :
1.      Deteksi overheat engine
2.      Deteksi kebakaran engine
3.      Deteksi kebakaran APU
4.      Deteksi kebakaran wheel well
5.      Deteksi panas wing dan fuselage
6.      Pendeteksi asap kompartemen kargo
7.      Deteksi asap pada toilet
Fire extinguishing berfungsi untuk memadamkan api jika sewaktu waktu terjadi kebakaran. Pada Pesawat boeing 737 MAX memiliki sistem pemadam api yang terletak pada :
1.      Engine
2.      APU
3.      Lavatory
4.      Kompartemen kargo
5.      Alat pemadam api portabel.

Gambar 3.1 Fire Protection System pada boeing 737 Max

( Sumber : SDS fire protection – introduction )

3.2  Fire Detection System

Fire detection system digunakan sebagai signal (peringatan awal) adanya kebakaran, dan sistem ini biasanya di pasang pada area yang sangat mungkin terjadinya kebakaran. Fungsi detector system yaitu untuk melihat atau mendeteksi kebakaran dan overheat, untuk itu fire detector pada reciprocating engine aircraft menggunakan salah satu sistem dibawah ini :
1.      Overheat detector, yaitu suatu alat yang digunakan untuk mendeteksi panas berlebih dalam suatu pesawat
2.      Rate of temperature rise detector, yaitu laju perubahan temperature yang melebihi batas yang diijinkan
3.      Flame detector, yaitu alat yang digunakan untuk mendeteksi adanya nyala api
4.      Observation by crewmember of passengers, yaitu informasi dari crew pesawat dan penumpang
Di samping seperti yang disebutkan diatas ada juga tipe detektor lain yang dipasang pada fire protection system terutama untuk mendeteksi kebakaran di bagian engine. Contoh lainnya smoke detector yang dipasang dibagian baggage compartement (cargo), carbon monoxide detektors, dan chemical sampling equipment.
System detector yang sering digunakan pada jenis pesawat yang menggunakan tuirbin engine, yaitu :
1.      Rate of temperature rise detectors, yaitu laju kenaikan temperature yang melebihi batas yang diijinkan.
2.      Radiation sensing detectors, yaitu alat yang digunakan untuk mendeteksi radiasi yang timbul akibat kebakaran, biasanya berupa gas radiation.
3.      Smoke detector, yaitu alat yang digunakan untuk mendeteksi asap
4.      Overheat detector, yaitu suatu alat yang digunakan untuk mendeteksi panas berlebih
5.      Carbon monoxide detector, yaitu alat yang digunakan untuk mendeteksi kandungan monoxide pada asap.
6.      Combustible mixture detectors, yaitu alat yang digunakan untuk mendeteksi campuran bahan bakar didalam fuel tank.
7.      Observation by crewmember of passengers, yaitu informasi dari crew pesawat dan penumpang.
Tiga tipe detektor yang sering digunakan dan cepat mendeteksi kebakaran yaitu rate of rise temperature, radiation sensing dan overheat detector.
Pada pesawat modern system observation by crew members bukanlah metode yang utama, untuk itu fire detection harus memiliki kelebihan seperti :
1)      Sistem tidak boleh salah dalam memberikan peringatan baik ketika pesawat sedang terbang atau ketika berada didarat  
2)      Sistem harus segera mengindikasikan tempat titik api tersebut berada
3)      Sistem harus akurat menginformasikan kalau api sudah mati
4)      Sistem harus akurat menginformasikan kalau api tersebut nyala kembali
5)      Pastikan dan periksa electrically system detector didalam cokpit harus berfungsi dengan baik
6)      Detektor harus ringan dan bisa di pasang dimana saja
7)      Penggunaan arus listrik yang dipakai dikurangi apabila system tidak mengindikasikan adanya api
8)      Detection system didalam cokpit harus dilengkapi dengan lampu peringatan dan sistem alarm sebagai alat indikasi jika adanya kebakaran atau overheat
Semua yang disebutkan diatas merupakan salah satu alat detector atau sensing yang digunakan pada pesawat modern tetapi masih banyak pesawat lama yang menggunakan system diatas termasuk thermal switch system atau thermocouple system

3.2.1        Engine Fire Detection

Sistem overheat dan sistem deteksi kebakaran menggunakan detektor pada engine. Detektor memantau engine untuk kondisi overheat dan kebakaran. Ketika sistem merasakan panas berlebih (overheat) atau kondisi kebakaran, indikasi alarm beroperasi di flight compartment. Indikasinya ada pada glareshield P7 panel dan pada engine and APU control panel. Bel juga beroperasi di flight compartment untuk kebakaran pada engine.

Gambar 3.2 Engine Fire Detection

( Sumber : SDS fire protection - engine fire detection – introduction )

Berikut ini adalah komponen untuk overheat dan kebakaran engine:
1.      Overheat detector / kebakaran engine (loop A dan loop B)
2.      Modul deteksi kebakaran engine dan APU
3.      Glareshield, panel P7
4.      Engine dan APU control panel
5.      Aural warning unit
Overheat detector / kebakaran pada engine mengirim sinyal ke engine dan APU modul deteksi kebakaran. Modul ini akan menyediakan indikasi aural dan visual di flight compartment. Modul deteksi engine dan APU memberikan indikasi visual untuk kesalahan detektor pada modul dan engine serta panel kontrol api APU.
Detektor kebakaran engine memantau suhu tinggi di area engine. Setiap engine memiliki dua belas detektor. Detektor memantau enam bagian dari engine. Di setiap bagian, dua detektor menempel pada support tube.

3.2.1.1  Lokasi
Inilah lokasi-lokasi dari fire detektor pada engine :
1.      Dua pada bagian case fan atas
2.      Dua di bagian case fan bawah
3.      Dua di bagian case fan sebelah kanan
4.      Dua di bagian case mid fan sebelah kiri
5.      Dua di bagian core kiri
6.      Dua di bagian core kanan.
Table dibawah ini menunjukkan karakteristik suhu detektor.
Table 3.1 Karakteristik Suhu Detector
Detection location
Overheat
Fire
Upper Fan Case
345°F (174°C)
580°F (304°C)
Lower Fan Case
345°F (174°C)
580°F (304°C)
Right Side Fan Case
345°F (174°C)
580°F (304°C)
Left Side Mid Fan Case
345°F (174°C)
580°F (304°C)
Left Core Section
650°F (343°C
850°F (454°C)
Right Core section
650°F (343°C)
850°F (454°C)
( Sumber : SDS fire protection - engine fire detection)
 

3.2.2        Lavatory smoke detection

             lavatory smoke detection memberitahu awak kabin untuk kondisi asap di toilet. Detektor asap ada di langit-langit setiap toilet.

 
Gambar 3.3 Lavatory Smoke Detector 

(sumber : SDS  fire protection - lavatory smoke detection – introduction )
 
               Sistem deteksi asap memberikan indikasi alarm aural dan visual ketika asap terdeteksi di lavatory. Detektor asap toilet memiliki interface seperti tenaga listrik dan flight data recorder Sistem, deteksi asap menggunakan 28v dc dari bus 1, sistem pendeteksi asap memberikan data ke sistem flight data recorder ketika detektor asap toilet menemukan asap.

 

Gambar 3.4 Lavatory Smoke Detector

( sumber : SDS fire protection - lavatory smoke detection – introduction )
 
 
3.2.2.1     Cara Kerja Detector  
                 Tujuan Detektor asap toilet adalah memantau toilet dari asap dan memberi peringatan aural dan visual ketika asap terdeteksi yang berposisi di langit-langit setiap toilet.
                 Sensor membandingkan panjang gelombang cahaya merah dan biru diode (LED-Light Emitting Diode). LED warna yang berbeda mencerminkan panjang gelombang yang berbeda ke dalam photo
dioda. Detektor mengukur kekuatan cahaya saat LED terkena partikulat. Jika sinyal menunjukkan asap, unit merespon dengan alarm. Unit ini juga dapat merasakan kondisi terlalu panas dan itu akan memberi alarm di 100⁰C.
                 Indikator status LED pada detektor akan berwarna hijau atau merah. Ketika detektor daya pertama kali diterapkan, LED berwarna merah kemudian hijau untuk menunjukkan operasi normal. Pengoperasian normal LED tetap hijau. Ketika sensor merasakan asap atau panas, LED menyala berwarna merah dan bel internal akan beroperasi. Ini akan tetap aktif sampai sakelar pembatalan bel ditekan atau sensor tidak lagi merasakan
asap.
                 Saklar HORN CANCEL tidak memiliki label.HORN CANCEL saklar tersembunyi. Diperlukan alat atau probe kecil untuk mengoperasikannya. Kapan Anda menekan dan melepaskan sakelar pembatalan bel, bel akan berhenti berbunyi.
LED akan tetap merah jika asap masih dirasakan. LED merah akan padam saat sensor asap tidak lagi merasakan asap.
 

 

Gambar 3.5 Indikator Smoke Detector

( sumber  : SDS fire protection - lavatory smoke detection - lavatory smoke detector)
 

3.2.3        APU Fire Detection

           Sistem deteksi kebakaran APU menggunakan detektor pada APU. Detektor memantau APU untuk kondisi kebakaran. Ketika sistem merasakan kondisi api, indikasinya adalah alarm beroperasi di flight compartment. Indikasi ada pada panel P7 glareshield dan pada engine dan APU fire control panel pada P8. Bel juga beroperasi di flight compartment. bel dan lampu merah beroperasi di main wheel well kanan.

 

Gambar 3.6 APU Fire Detection

(sumber : SDS fire protection - APU fire detection - introduction)
 
 
Ini adalah komponen dari sistem deteksi kebakaran APU:
1.      Detektor kebakaran APU
2.      Modul deteksi kebakaran engine dan APU
3.      Glareshield, panel P7
4.      Engine and APU control panel
5.      APU remote control panel, P28.
6.      Aural warning unit
7.      Unit kontrol elektronik APU.
             Detektor kebakaran pada APU mengirim sinyal engine and APU fire detection modul. Modul ini akan menyediakan indikasi aural dan visual dalam flight compartment. Selain itu, modul mengirim sinyal ke unit kontrol APU untuk mematikan APU secara otomatis.
APU remote control panel memberikan indikasi eksternal adanya kebakaran APU. bel dan lampu merah beroperasi bergantian pada kecepatan satu kedip per detik.

3.2.4  Cargo Compartment Smoke Detection

            Sistem pendeteksi asap lower kompartemen kargo memberikan peringatan di flight deck jika ada asap di lower kompartemen kargo. Ada peringatan untuk lower kompartemen kargo depan dan belakang.


 

Gambar 3.7 Kargo Kompatemen Depan Dan Belakang

( sumber :SDS  fire protection - cargo compartment smoke detection – introduction)
 
Ini adalah komponen dari asap lower kompartemen kargo sistem deteksi:
1.      Smoke detectors
2.      Cargo electronic units
3.      Cargo fire control panel
4.      Aural warning unit
5.      Lampu peringatan kebakaran.
               Setiap detektor asap memantau ruang kargo untuk asap dan heat. Jika detektor merasakan asap atau panas, sinyal masuk ke unit elektronik kargo. Unit elektronik kargo mengirimkan sinyal ke flight compartment untuk indikasi.
Berikut adalah indikasi pada flight compartment :
1.      Lampu api kargo FWD atau AFT pada panel kontrol api menyala
2.      Lampu P7 FIRE WARN menyala
3.      Suara bel dari aural warning unit.
               
   
 

Gambar 3.8 Indikasi Pada Flight Compartment

(sumber : SDS fire protection - cargo compartment smoke detection – introduction)
 
 
3.2.4.1  Lokasi Komponen
     Lower kompartemen kargo memiliki banyak pendeteksi asap dan satu unit elektronik kargo di setiap kompartemen. Lower kompartemen kargo depan  memiliki empat detektor asap sedangkan  lower kompartemen kargo belakang memiliki enam detektor asap. Posisi detektor berada di langit-langit kompartemen. Anda harus melepaskan pelindung untuk mendapatkan akses ke detektor asap. Satu unit elektronik kargo berada di langit-langit di sisi kiri setiap kargo kompartemen, di dalam pintu kargo. Anda melepas penutup untuk mendapatkan akses ke unit elektronik kargo.

 

Gambar 3.9  Posisi Smoke Detector

( sumber  : SDS fire protection - cargo compartment smoke detection - component location )
 
 

3.2.5        Wheel Well Overheat Detection

Sistem deteksi api pada wheel well menggunakan sensing elemen panas pada wheel well dengan baik. Ini memantau wheel dengan baik untuk kondisi kebakaran. Ketika sistem merasakan kondisi kebakaran, indikasi alarm beroperasi di flight compartment. Indikasinya ada pada panel glareshield P7 dan pada engine dan APU fire control panel P8. Bel juga beroperasi dalam flight compartment.

 

Gambar 3.10 Wheel Well Overheat Detection

( sumber : SDS fire protection - wheel well overheat detection – introduction )
 
Ini adalah komponen untuk deteksi kebakaran pada whell well:
1.      Main wheel well fire (overheat) sensing element
2.      Compartment overheat detection controller
3.      P7 glareshield panel
4.      Engine and APU fire control panel
5.      Aural warning unit.
               Fire (overheat) sensing element pada main wheel well menyuplai sinyal deteksi, sinyal diteruskan ke compartment overheat detection controller. Dan Unit ini menghidupkan alarm kebakaran.
Ini adalah indikasi pada flight compartment jika terjadi kebakaran pada wheel well:
1.      Dua lampu FIRE WARN merah pada panel P7 menyala
2.      Bel berbunyi di aural warning unit
3.      Lampu WHEEL WELL Merah pada engine dan panel kontrol api APU menyala.
 

 

Gambar 3.11 Indikasi Di Cokpit Untuk Wheel Fire Detection

( sumber  : SDS  fire protection - wheel well overheat detection – introduction )
 
3.2.6  Wing and Body Overheat Detection
             Sistem deteksi overheat wing dan body menggunakan sensing elemen yang berdekatan dengan saluran pneumatik. Ini memantau saluran sistem distribusi pneumatik untuk kondisi overheat. Ketika sistem mendeteksi kondisi overheat, indikasi alarm menyala di flight compartment. Indikasinya ada pada panel glareshield P7 dan pada panel P5 air conditioning/bleed air controls.

 

Gambar 3.12 Wing and Body Overheat Detection

( sumber  : SDS  fire protection – wing and body overheat detection – introduction )
   Ini adalah komponen utama dari sistem deteksi overheat wing dan body :
1.      Wing/body overheat sensing elements
2.      Compartment overheat detection controller
3.      Air conditioning panel.
               Sistem deteksi overheat wing dan body menggunakan single element sensing loop. loop detektor di sayap kiri, kanan dan body  menyuplai sinyal overheat pada compartment overheat detection controller. Sinyal ini akan memberikan indikasi overheat pada flight compartment di air conditioning panel.

 

Gambar 3.13 Indikasi Di Cokpit Untuk Wing and Body Detection

( sumber  : SDS  fire protection – wing and body overheat detection – introduction )
 
 

3.3  Fire Extinguishing System 

         Fire extinguishing system merupakan suatu sistem yang berfungsi untuk memadamkan api yang sebelumnya telah dideteksi oleh fire detection system.

3.3.1        Engine Fire Extinguishing

                Sistem pemadam api engine memadamkan api di compartment engine. Sistem ini Menggunakan dua buah fire extinguisher bottle yang menyemprotkan halon (halogenated hydrocarbon) pada kompartemen engine dengan baik. Kedua botol tersebut berada di sudut kiri atas main wheel well sedangkan control panelnya berada di flight compartment pada panel P8 
Berikut ini adalah komponen dari sistem pemadam api di engine:
1.      Engine and APU fire control panel
2.      Fire extinguisher bottles (2)
3.      Engine fire extinguishing ports.

            Gambar 3.14 Engine fire extinguishing system

                    ( sumber : SDS fire protection - engine fire extinguishing – introduction )
 
3.3.1.1  Prinsip kerja 
     Ketika terjadi kondisi overheat atau fire, engine dan APU fire handle switch akan terbuka dengan sendirinya, apabila tidak terbuka maka bisa secara manual menggunakan handle switch override yang berada di bawah engine and APU fire handle switch. Saat menarik swiitch maka sistem engine akan mati dan diisolasi demi keselamatan penerbangan.
1.    Engine 1 fire extinguishing
            Saat memutar fire handle switch engine NO 1 (left) searah jarum jam maka extinguisher bottle squib 1 pada botol R akan beroperasi, ini akan mematahkan seal dan menyemprotkan halon dari botol R ke engine NO 1.
Sedangkan saat memutar fire handle switch engine nomor 1 berlawanan jarum jam maka extinguisher bottle squib 1 pada botol L akan beroperasi yang mematahkan seal dan menyemprotkan halon dari botol L ke engine NO 1.
Saat botol pemadam kebakaran telah habis maka BOTTLE DICHARGE light pada engine and APU control panel akan menyala.
2.    Saat memutar fire handle switch engine NO 2 (right) searah jarum jam maka extinguisher bottle squib 2 pada botol R akan beroperasi, ini akan mematahkan seal dan menyemprotkan halon dari botol R ke engine NO 2.
Sedangkan saat memutar fire handle switch engine nomor 2 berlawanan jarum jam maka extinguisher bottle squib 2 pada botol L akan beroperasi yang mematahkan seal dan menyemprotkan halon dari botol L ke engine NO 2.
Saat botol pemadam kebakaran telah habis maka BOTTLE DICHARGE light pada engine and APU control panel akan menyala.

 

Gambar 3.15 Cara Kerja Fire Engine Fire Extinguishing

(sumber : SDS fire protection - engine fire extinguishing – operation )
 
             Saat menarik engine and APU fire handle switch maka hal yang akan terjadi adalah :
1.      High pressure fuel valve in HMU closes 
2.      Spar fuel valve closes 
3.      Thrust Reverce mati
4.      Engine driven hydraulic pump shutoff valve closes
5.      Hydraulic system low pressure indication inhibited
6.      Pneumatic pressure regulating and shutoff valve closes
7.      Generator trips off.

1.8  Engine Fire Extinguisher Bottle

         Engine fire extinguisher bottle mengandung halon yang memadamkan api pada engine. Engine fire extinguisher bottle berbentuk bulat dan Setiap botol berisi halon dan nitrogen pada tekanan 800 psi pada suhu 70 ° F (21 ° C). botol ini terletak di main wheel well 
Ini adalah komponen dari setiap engine fire extinguisher bottle :
1.      Pressure gage and switch
2.      Extinguisher bottle squib ( catride )
3.      Fill fitting and safety relief device
4.      Two discharge outlet
Gambar 3.16 Komponen Fire Extinguisher Bottle
( Sumber : sds fire protection - engine fire extinguishing - extinguisher bottle )

1.9  Portable Fire Extinguisher

         Ada alat pemadam api portabel untuk memadamkan api di dalam pesawat, Ada tiga jenis alat pemadam yaitu air, halon dan clean agent (2-BTP). Portable fire extinguishing sering di tempatkan di tempat tempat seperti flight compartment (cocpit), galley (dapur), passenger compartment (cabin). 

3.3.2        Extinguisher Jenis Air

            Alat pemadam jenis air digunakan untuk memadamkan api dari bahan-bahan yang mudah terbakar (kertas, kayu, dan sebagainya), Alat pemadam jenis air mengandung campuran air dan anti-freeze mixture (anti beku). Untuk mengoperasikan alat pemadam jenis air, putar handle dan dorong trigger (pelatuk).
Setiap pemadam jenis air memiliki bagian-bagian seperti dibawah ini:
2.      Trigger (discharge valve)
3.      Water cylinder
4.      Handle with internal gas cartridge
5.      Discharge nozzle
6.      Quick-release mounting strap

3.3.3        Extinguisher Jenis Halon

                Alat pemadam jenis halon digunakan untuk memadamkan api dari bahan elektrical dan liquid (fuel, cat dan sebagainya). Untuk mengoperasikan pemadam halon, lepaskan pin kunci handle kemudian ditekan. 
                Setiap pemadam halon memiliki bagian seperti :
1.      Pressure indicator
2.      Halon cylinder
3.      Trigger
4.      Discharge nozzle
5.      Handle lock pin
6.      Handle

3.3.4        Extinguisher Jenis Clean Agent

           Clean agent (2-BTP) digunakan untuk memadamkan api dari bahan elektrical dan liquid (fuel, cat dan sebagainya). Untuk mengoperasikan alat pemadam clean agent (2-BTP), lepaskan pull-out pin dan dorong handle.
                               Setiap pemadam clean agent (2-BTP) memiliki bagian seperti :
1.      Pressure indicator
2.      2-BTP cylinder
3.      Trigger
4.      Discharge nozzle
5.      Pull-Out pin
6.      Handle

 

Gambar 3.17 Portable Fire Extinguishing

(sumber : SDS fire protection - portable fire extinguishing)

6.1  Type of Fire Extinguishing

3.3.5        High Rate of Discharge System

           High Rate of Discharge System (HRD) yaitu system yang banyak sekali digunakan di pesawat. HRD sistem ini dilengkapi dengan high discharge rates, high pressuration, short feed line, large discharge valve and outlets. Extinguishing agent yang digunakan pada system ini yaitu menggunakan sala satu jenis dari halognateds hydrocarbon (halons) yang kadang-kadang menggunakan nitrogen kering (N2) yang diberikan udara bertekanan tinggi ketika agent tersebut di semburkan ke luar.
        Karena HRD ini merupakan proses keluarnya agent dan tekanan gas didalam suatu area atau wadah dalam waktu satu detik atau bahkan kurang, maka area tersebut diberi tekanan dan dipotong oleh saluran aliran udara untuk waktu sementara. Sedikit lebih besar ukuran discharge outlet pada system ini, maka akan menditribusikan efek udara yang tidak beraturan (kabut) dengan baik sehingga menjadikan sistem ini menjadi lebih efektif.

3.3.6        Conventional System

Sistem ini adalah jenis fire extinguisher yang pertama kali digunakan di pesawat terutama pada pesawat jenis lama, tetapi sistem ini tidak se-efisien sistem yang dibuat sekarang. Sistem ini menggunakan carbon dioxide (CO2) sebagai fire extinguishing agents, tetapi tidak menutup kemungkinan juga menggunakan agent jenis lain.

6.2  Extinguishing Agent Characteristic

         Aircraft fire extinguishing agent memiliki beberapa karakteristik yang dibuat khusus dan harus disesuaikan dengan fire extinguishing system-nya. Semua agent harus bisa di simpan atau bertahan lama tanpa mempengaruhi sistem komponen atau kualitas dari agent tersebut, dan ketika digunakan agent tersebut tidak mudah membeku, tidak mudah terbakar, tidak beracun dan efektif untuk mengatasi kebakaran sesuai dengan kemampuannya masing-masing.

3.3.7  The Halogenated Hydrocarbon Agent

Halogen terbuat dari campuran kimia antara fluorine, cholorine, bromine, dan ada juga yang disebut iodine. Terkecuali untuk iodine mungkin jarang digunakan karena terlalu mahal dan tidak terlalu banyak memberikan kelebihan baik itu kualitas maupun efektifitas dari campuran agent tersebut. Warna dan Aroma Halogen mempunyai warna dan aroma tertentu. Flourine berwarna kuning muda, cholorine berwarna hijau muda, bromine berwarna merah tua, iodine padat berwarna hitam, sedangkan uap iodine berwarna ungu. Semua halogen berbau rangsang dan menusuk, serta bersifat racun.

3.3.8  Innert Cold Gases

Kedua bahan ini yaitu carbon dioxside (CO2) dan nitrogen (N2) bisa dikategorikan sebagai extinguishing agents, bentuknya ada yang berupa gas dan cairan.
1.      Carbon dioxide (CO2) sudah dipakai dalam beberapa tahun ini sebagai bahan pemadam cairan yang mudah yang mudah terbakar dan kebakaran pada peralatan electric. Agent ini sifatnya tidak mudah terbakar dan tidak mudah bercampur dengan bahan cairan lainnya, dan untuk mengeluarkan cairan tersebut untuk itu botol penyimpanannya di berikan tekanan. Pada umumnya carbon dioxide (CO2) ini berupa gas dingin dengan suhu hingga -110⁰ F dan mudah sekali mencair apabila di beri tekanan. Ketika carbon dioxide (CO2) ini dikeluarkan ke udara maka bentuknya berubah menjadi seperti salju.
2.      Nitrogen (N2) merupakan sala satu alat pemadam yang sangat efektif, sedikit beracun dan berbahaya bagi manusia sama halnya seperti carbon dioxide (CO2), bentuknya lebih kering dan lebih dingin. Kerugian dari (N2) ini yaitu tempat penyimpanannya harus disertai plumbing sebagai alat untuk mengatur suhu didalamnya supaya tetap pada suhu -320⁰ F (temperature of liquid nitrogen).

BAB IV

PERAWATAN ENGINE FIRE EXTINGUISHER BOTTLE PADA BOEING 737 MAX


4.1  Gambaran Umum

Pada bab ini merupakan inti dari penulisan Tugas Akhir, penulis jelaskan mengenai alur perawatan komponen pesawat terbang, serta menguraikan proses dari setiap pengerjaan perawatan komponen, yang sesuai dengan judul Tugas Akhir ini, alasan penulis memilih perawatan engine fire extinguisher bottle sebagai objek Tugas Akhir karena engine fire extinguisher bottle merupakan salah satu elemen penting dari suatu pesawat terbang dikarenakan fungsinya sebagai alat untuk menyimpan fire extinguishing agent dalam proses pemadaman api jika terjadi kebakaran di pesawat.
Perawatan engine fire extinguisher bottle pada pesawat boeing 737-MAX meliputi beberapa tahapan, diantaranya melepas komponen dari pesawat dan kemudian di bawa dan di test di workshop pesawat (suatu tempat yang memiliki AMO), test ini dinamakan hydrostatic test yaitu sebuah test yang bertujuan untuk mengetahui pengembangan bottle apakah masih laik digunakan atau harus dilakukan penggantian dengan yang baru dan kemudian di kembalikan lagi ke pesawat.


4.2  Perawatan Engine Fire Extinguisher Bottle pada Pesawat Boeing 737 MAX

 Berikut ini merupakan proses dari alur perawatan fire extinguisher bottle pesawat terbang:
Reason for The Job

Job Set-up Information

Job Set-up
 
Maintenance Record Entries
Procedure
Close-up
 


Gambar 4.1 Diagram Alur Proses perawatan Pada Pesawat Terbang (Sumber : Tugas Akhir GLADY PRADANA IMRON tahun 2017 dengan judul INSPEKSI DAN PEMELIHARAAN HYDRAULIC BRAKE SYSTEM PADA PESAWAT BOEING 737 NG )
1.    Reason for the Job
Reason for the job berisi tentang kenapa harus ada perawatan yang dilakukan pada pesawat terbang.
2.    Job Set-up Information
Job set-up information merupakan bagian yang menyediakan informasi tentang fixture, tools, support, equipment, dan referensi dokumen tentang beberapa pengerjaan untuk mendukung pengerjaan utama.
3.    Job Set-up
Job set-up merupakan pengerjaan pendukung yang dilakukan sebelum melakukan pengerjaan utama.
4.    Procedure
Procedure yaitu langkah-langkah yang dilakukan pada pengerjaan utama.
5.    Close-up
Close-up adalah pengerjaan yang dilakukan untuk mengembalikan pesawat ke posisi semula dan mengisi maintenance record entries.
6.    Maintenance Record Entries
Maintenance record entries merupakan pencatatan pada aircraft log book ketika melakukan pengerjaan pada pesawat udara.

CATATAN : 1. Warning (W) : Menunjukkan sebuah situasi berbahaya, dimana jika tidak dihindari akan mengakibatkan kematian atau cedera yang serius terhadap seseorang.
3.      Caution (C) : Menunjukkan sebuah situasi berbahaya, dimana jika tidak dihindari akan mengakibatkan kerusakan sistem, tools atau properti disekitarnya.

4.2.1  Job Set Up Information

4.2.1.1  Reference
Reference
Title
AMM 26-21-01-000-801  
Remove engine fire extinguisher bottle
CMM Pacific Scientific Company
 Hydrostatic Test Procedure
AMM 26-21-01-400-801
Installation engine fire extinguisher bottle
20-40-12-000-802
ESDS Handling for Metal Encased Unit Removal (P/B 201)
20-40-12-400-802
ESDS Handling for Metal Encased Unit Installation (P/B 201)
20-60-07-910-802
Inspeksi, Pembersihan dan sealing Electrical Connector (P / B 201)
26-20-00-210-801
Engine Fire Extinguishing Bottle Check (P/B 601)
26-21-00-720-801
Engine Fire Extinguishing Discharge Line Flow Test (P/B 501)
26-21-00-730-802
Engine Fire Extinguishing Bottle Pressure Switch Circuit Test (P/B 501)
32-00-01-480-801
Landing Gear Downlock Pins Installation (P/B 201)



4.2.1.2  Tools and Equipment
Reference
Description
COM-1550
Bonding Meters - Approved, Intrinsically Safe (Approved for use in
Class I, Divisions I & II hazardous (classified) locations. Outside
these hazardous locations, COM-614 can be used in lieu of
COM-1550).
737-8, -9
Part #: 620LK Supplier: 1CRL2
Part #: M1 Supplier: 3AD17
Part #: T477W Supplier: 01014
Opt Part #: M1B Supplier: 3AD17
COM-1793
Multimeter - Digital/Analog (or equivalent meter meets task
requirements)
737-8, -9
Part #: 117 Supplier: 89536
Part #: 260-8XPI Supplier: 55026
Part #: 287 Supplier: 89536
Part #: 289 Supplier: 89536
Part #: 87V Supplier: 89536
Part #: FLUKE 27 II Supplier: 89536
Part #: FLUKE-77-4 Supplier: 89536
Opt Part #: 187 Supplier: 89536
Opt Part #: 189 Supplier: 89536
Opt Part #: 21 Supplier: 89536
Opt Part #: 27 Supplier: 89536
Opt Part #: 77 SERIES III Supplier: 89536
Opt Part #: 87 Supplier: 89536
Opt Part #: FLUKE 27 Supplier: 89536
Opt Part #: MODEL 27 Supplier: 89536
COM-4907
Force Gauge with Resolution of 0.10 lb, +/-0.3% or better
737-8, -9
Part #: FDIX 100 Supplier: 0BFD9
Part #: FDIX 50 Supplier: 0BFD9
Part #: LG-5KG Supplier: 92456
Part #: PS-10 Supplier: 1GHM7
Opt Part #: FDI 100 Supplier: 0BFD9
Opt Part #: FDI 50 Supplier: 0BFD9
Opt Part #: FDV 100 Supplier: 0BFD9
Opt Part #: FDV 50 Supplier: 0BFD9
SPL-14896
Alignment Equipment - Fire Suppression Bottle Nozzle
737-8, -9
Part #: C26011-1 Supplier: 81205
STD-1079
Resistor - 10K Ohm or Greater

Hydrostatic Test Tool

4.2.1.3  Consumable Materials
Reference
Description
Spesification
B00083
Solvent - VM&P Naphthas
TT-N-95 Type II, ASTM
D-3735 Type III
G01048
Lockwire - MS20995C32, Corrosion Resistant Steel - 0.032 Inch (0.8128 mm) Diameter
NASM20995
G50237
Compound - Corrosion Inhibiting, Non-drying -Cor-Ban 27L
BMS3-38




4.2.1.4  Location Zones
Zone
Area
133 -

Main Landing Gear Wheel Well, Body Station 663.75 to Body Station 727.00 - Left
211 -
Flight Compartment - Left
212 -
Flight Compartment – Right

4.2.1.5  Alat Pelindung Diri
- Sepatu Boot (safety boots) berfungsi sebagai alat pengaman saat   berkerja, kebanyakan dilapisi dengan metal untuk melindungi kaki dari benda tajam dan berat, benda panas, ataupun cairan kimia.
- Sarung Tangan digunakan pada saat berkerja di tempat atau situasi yang dapat mengakibatkan cedera tangan.
- Work Clothing (Wearpack) digunakan untuk melindungi diri dari debu maupun cairan kimia, juga memudahkan dalam melakukan aktifitas dalam pekerjaan.

4.2.2        Job Set Up

4.2.2.4  Remove Fire Extinguisher Bottle from Aircraft
WARNING  : Pastikan downlock pin sudah terpasang di semua area landing gear, tanpa downlock pin landing gear bisa jatuh dan mengakibatkan cedera pada orang dan keruskan peralatan
1.      Jika pin downlock tidak dipasang di nose dan main landing gear, lakukan : Pemasangan downlock pin landing gear
2.      Buka circuit breaker dan pasang safety tags


Tabel 4.1 F/O Electrical System Panel, P6-2
Baris
Kolom
Nomor
Nama
B
20
C00297
FIRE PROTECTION EXTINGUISHERS RIGHT
B
22
C00296
FIRE PROTECTION EXTINGUISHERS LEFT
B
23
C01022
FIRE PROTECTION EXTINGUISHERS ALTN R
B
24
C01021
FIRE PROTECTION EXTINGUISHERS ALTN L
( Sumber : AMM boeing 737 MAX )
3.      Lepaska electrical connector [6] dari squibs [7].
WARNING : PASANG PENUTUP PROTECTIVE PADA SQUIB. JIKA ANDA TIDAK DILAKUKAN MAKA, BOTOL PEMADAM KEBAKARAN BISA MELEPASAKAN FIRE AGENT. INI DAPAT MENYEBABKAN CEDERA KEPADA ORANG.
4.      pasang protective cup pada setiap squib [7].
5.      Lepaskan electrical connector [5] dari pressure switch [4].
6.      Putuskan discharge line dari kedua fire bottle discharge outlet.
CATATAN: Longgarkan rakitan tabung dan perlengkapan lain yang diperlukan untuk memindahkan discharge line keluar.
7.      Pasang protective cup di setiap discharge port.
8.      Pasang protective cup di setiap discharge line.
9.      Lepaskan keempat bolt [2] dan washer [3].
CATATAN: Longgarkan dua bolt yang berlawanan [2] sekaligus agar pelepasan lebih mudah.
WARNING : HATI-HATI KETIKA ANDA PINDAHKAN FIRE EXTINGUISHER BOTTLE. PRESSURISED DAN MEMILIKI CARTRIDGE EKSPLOSIF SEBAGAI KOMPONEN. JIKA FIRE EXTINGUISHER BOTTLE MELEPASKAN AGENT, BISA MENYEBABKAN CEDERA KEPADA PERSONIL DAN KERUSAKAN TERHADAP PERALATAN.
10.  Lepaskan engine fire extinguishing bottle [1].

Gambar 4.2 Engine Fire Extinguisher Bottle Removal

( Sumber AMM boeing 737 MAX )

4.2.2.5  Lepaskan Semua Komponen Yang Terpasang Pada Fire Extinguisher Bottle
NOTE : keluarkan fire agent sebelum melepaskan komponen yang menempel pada engine fire extinguisher bottle.
Lepaskan squib (cartridge), discharge outlet, dan pressure switch sesuai dengan prosedur yang diijinkan.

4.3.3        Procedure

4.2.3.1  Hydrostatic Pressure Test Requisites
1.      DOT (Depertement Of Transportation ), FAA (Federation Aviation Administration) dan CAA (civil aviation authority) menganjurkan untuk melakukan hydrostatic test setiap lima tahun sekali
2.      Cara yang dianjurkan dalam pengujian agar menggunakan water jacket volumetric ekspansion, yang menggunakan tekanan air internal yang tinggi untuk menentukan total volumetric ekspansion.
Test pressure yang diijinkan untuk engine fire extinguisher bottle adalah 2300 Psi
4.2.3.2  Hydrostatic test procedure
1.      Mempersiapkan alat-alat yang digunakan
2.      Lakukan hydrostatic test sesuai dengan aturan dari manufacture
3.      Setelah test dilakukan lepaskan penutup dan keluarkan air dari fire extinguisher bottle
4.      Panaskan fire extinguisher bottle pada suhu 225⁰ F - 250⁰ F (107⁰ C - 121⁰ C ) hingga mengering
5.      Periksa kembali fire extinguisher bottle dari kerusakan
6.      Berikan tanggal test yang sudah dilaksanakan dan tanggal test berikutnya pada fire extinguisher bottle
4.2.3.3  Pasang kembali komponen dari fire extinguisher bottle
CATATAN : Isi kembali fire agent berupa halon kedalam engine fire extinguisher bottle
Pasang kembali semua komponen fire exitinguisher bottle berupa squib (cartridge), discharge outlet, dan pressure switch

4.2.3.4  Instalation fire extinguisher bottle on aircraft
WARNING  : Pastikan downlock pin sudah terpasang di semua area landing gear, tanpa downlock pin landing gear bisa jatuh dan mengakibatkan cedera pada orang dan keruskan peralatan
1.      Jika downlock pin tidak dipasang di nose dan main landing gear, lakukan : Pemasangan Downlock pin Landing Gear
2.      Gunakan force gauge, untuk menimbang fire extinguisher bottle [1].
CATATAN: Unit botol termasuk botol yang diisi, charged bottle, discharge heads, cartridge and electrical bonding terkunci pada posisinya. Lepaskan semua tutup pelindung sebelum menimbang. Explosive catride harus ditutup ketika menangani bottle, kecuali saat menimbang.
3.      Pada permukaan kerja yang bersih, gunakan fire suppression bottle nozzle alignment equipment, SPL-14896, untuk memeriksa dan meluruskan setiap discharge head pada extinguisher bottle [1].
(a)   Lepaskan protective cup dari discharge port.
(b)   Longgarkan discharge outlet gland nut untuk menyelaraskan discharge head.
(c)   Kencangkan gland nut hingga 540 in-lb (61 Nm) - 660 in-lb (75 Nm).
(d)   Instal MS20995C32 lockwire, G01048, pada gland nut.
(e)   Pasang protective cup pada discharge port.
4.      Jika fire extinguisher sebelumnya habis, lakukan langkah ini:
a.    Lakukan pengecekan discharge line dari kontaminasi.
CATATAN: Berikan perhatian khusus pada discharge outlet (nozzles) di engine.
5.      Periksa check valve untuk memastikan bola bergerak bebas.
CATATAN: Mungkin perlu untuk lebih lanjut memutuskan discharge line untuk mendapatkan akses ke check valve

Gambar 4.3 Check Valve

( Sumber : AMM boeing 737 MAX )
6.      Pastikan circuit breaker terbuka dan memiliki tag pengaman:
Tabel 4.2 F/O Electrical System Panel, P6-2
Row
Col
Number
Name
B
20
C00297
FIRE PROTECTION EXTINGUISHERS RIGHT
B
22
C00296
FIRE PROTECTION EXTINGUISHERS LEFT
B
23
C01022
FIRE PROTECTION EXTINGUISHERS ALTN R
B
24
C01021
FIRE PROTECTION EXTINGUISHERS ALTN L
            ( Sumber : AMM boeing 737 MAX )



7.      Lakukan langkah-langkah ini untuk memasang fire extinguisher bottle [1]:
a.       Pastikan fire extinguisher bottle [1] dan permukaan support bracket mounting bersih.
b.      Pasang bolt [2] dan washer [3] ke dalam support bracket.
WARNING : HATI-HATI KETIKA ANDA PINDAHKAN FIRE EXTINGUISHER BOTTLE. FIRE EXTINGUISHER BOTTLE PRESSURISED DAN MEMILIKI CARTRIDGE EKSPLOSIF SEBAGAI KOMPONEN. JIKA FIRE EXTINGUISHER BOTTLE MELEPASKAN AGENT, BISA MENYEBABKAN CEDERA KEPADA PERSONIL DAN KERUSAKAN TERHADAP PERALATAN.
c.       Letakkan fire extinguisher bottle [1] pada posisi yang benar pada support bracket.
Geser tutup botol di antara bolt yang terpasang sebelumnya [2] / washer [3] dan support bracket.
d.      Pasang bolt kedua [2] dan washer [3] menyilang dari yang pertama.
1) Jangan pasang bolt dan washer yang tersisa.
CATATAN: Pastikan bolt benar-benar terpasang dalam penutup fire bottle
CATATAN: Pergerakan botol diperbolehkan untuk pemasangan discharge line.
e.       Lakukan TASK 26-21-00-720-801. ini: Fire Extinguishing Discharge Line Flow Test,
f.        Lepaskan protective cup dari masing-masing discharge ports.
g.      lepaskan protective caps dari masing-masing discharge lines.
WARNING : GUNAKAN NITRILE GLOVES UNTUK PERLINDUNGAN KULIT SAAT ANDA MENGGUNAKAN CORBAN 27L, G50237. JIKA MENGENAI KULIT ANDA, SEGERA CUCI DENGAN AIR. JIKA BAHAN INI MENGENAI MATA ANDA, SEGERA MEMBASUH MATA ANDA DENGAN AIR. DAPATKAN BANTUAN MEDIS. BAHAN INI MENGANDUNG AGEN YANG DAPAT MENYEBABKAN
CEDERA KEPADA ORANG.
h.      Oleskan lapisan Senyawa Cor-Ban 27L, G50237, pada ulir outlet, ujung outlet, dan diameter dalam outlet di mana discharge line menempel pada discharge head
i.        Hubungkan discharge line ke discharge head.
1.   Mulailah dengan outboard koneksi terlebih dahulu, lalu inboard.
CATATAN: Kuning digunakan untuk menunjukkan pipa yang memasok extinguishing agent ke engine nomor 1. Biru digunakan untuk menunjukkan pipa yang memasok extinguishing ke engine nomor 2.
CATATAN: Sambungkan hard tube dan discharge line dengan longgar sebelum Anda mengencangkannya discharge line.
j.        Hilangkan semua senyawa yang tidak diinginkan.
k.      Pasang bolt yang tersisa [2] dan washer [3] pada fire extinguisher bottle [1].
1.       Kencangkan bolt [2] pas, lalu mundur 1/2 putaran.
CATATAN: Pastikan discharge line tidak tertutup.

Gambar 4.4  Bolt And Washer

( Sumber : AMM boeing 737 MAX )
l.        Kencangkan nut hingga 342 in-lb (39 Nm) - 378 in-lb (43 Nm) pada discharge line
m.    Kencangkan bolt [2] hingga 146 in-lb (16 N m) - 155 in-lb (18 Nm).
n.      Lakukan pengecekan resistensi antara fire extinguisher bottle [1] dan support bracket dengan Bonding Meters - Approved, Intrinsically Safe, COM-1550.
1) Pastikan resistansi 0,0025 ohm (2,5 miliohm) atau kurang.
2) Jika resistansi lebih dari 0,0025 ohm (2,5 miliohm), bersihkan Permukaan bonding antara fire extinguisher bottle [1] dan support bracket dengan solvent, B00083, dan tes ulang.
8.      Lakukan langkah-langkah ini untuk menghubungkan electrical connector [6] ke squib [7].
WARNING : JANGAN SENTUH SQUIB SEBELUM ANDA MELAKUKAN PROSEDUR UNTUK PERANGKAT YANG SENSITIF TERHADAP ELECTROSTATIC DISCHARGE. ELECTROSTATIC DISCHARGE DAPAT MENYEBABKAN BOTOL MELEPASKAN AGENT DAN MENYEBABKAN CEDERA PADA ORANG-ORANG DAN KERUSAKAN PERALATAN.
a.       Sebelum Anda menyentuh squib, lakukan prosedur untuk perangkat yang peka terhadap electrostatic discharge dengan menggunakan prosedur TASK berikut :
• ESDS Handling for Metal Encased Unit Removal, TASK 20-40-12-000-802.
• ESDS Handling for Metal Encased Unit Installation, TASK 20-40-12-400-802.
b.      Lepaskan protective cup dari squib [7].
WARNING : PASTIKAN TIDAK ADA TEGANGAN DI KONEKTOR LISTRIK. JIKA ADA TEGANGAN DI KONEKTOR LISTRIK, SQUIB BISA KEBAKARAN DAN MENYEBABKAN CEDERA PADA PERSONEL.
9.      Lakukan ini untuk memastikan bahwa tidak ada tegangan yang menyimpang di connector squib listrik:

Engine
APU
Cargo
Connector Pins
3 and 4, and
6 and 7
3 and 4
1 and 2
Table 4.3 Fire Bottle Squib Electrical Connector
( Sumber : AMM boeing 737 MAX )
a.       Hubungkan multimeter digital / analog, COM-1793, di kedua pin.
b.      Pastikan bahwa arus kurang dari 5 mA.
c.       Hubungkan resistor, STD-1079, melintasi probe multimeter.
d.      Pastikan tegangannya kurang dari 0.250 V.
e.       Jika perlu, ulangi langkah-langkah di atas untuk electrical connector squib lainnya.
f.        Putuskan sambungan multimeter
10.  Lakukan TASK 20-60-07-910-802 ini: Inspeksi, Pembersihan dan Penyegelan electrical connector
11.  Hubungkan electrical connector [1] ke squib.
CATATAN: Pin squib dapat menyebabkan kerusakan pada konektor listrik jika pin tidak terhubung dengan benar ke electrical connector.
12.  Lakukan tes electrical wiring hingga hingga pressure switch [4] (TASK 26-21-00-730-802).
13.  Sambungkan electrical connector [5] pada pressure switch [4].
14.  Lakukan pemeriksaan visual pada pressure gauge (TASK 26-20-00-210-801).

Gambar 4.5 Engine Fire Extinguisher Bottle Installation

( Sumber : AMM boeing 737 MAX )

Gambar 4.6 Engine Fire Extinguisher Bottle Installation

( Sumber : AMM boeing 737 MAX )

4.3.4        Close Up

1.   Lakukan pengetesan pada engine fire extinguisher bottle
4.3.4.1  Engine Fire Extinguisher Installation Test
Lepaskan safety tags dan tutup circuit breakers
Table 4.4 F/O Electrical System Panel, P6-2
Row
Col
Number
Name
B
20
C00297
FIRE PROTECTION EXTINGUISHERS RIGHT
B
22
C00296
FIRE PROTECTION EXTINGUISHERS LEFT
B
23
C01022
FIRE PROTECTION EXTINGUISHERS ALTN R
B
24
C01021
FIRE PROTECTION EXTINGUISHERS ALTN L
 ( Sumber : AMM boeing 737 MAX)
1.      Atur sakelar EXT TEST pada panel P8-1 ke 1.
(a) Pastikan lampu L dan R menyala.
CATATAN: Lampu APU juga akan menyala.
2.      Atur sakelar EXT TEST pada panel P8-1 ke 2.
(a) Pastikan lampu L dan R menyala.
CATATAN: Lampu APU juga akan menyala.
2.Membersihkan kembali daerah tempat melakukan pekerjaan.
3.Membersihkan dan Mengembalikan tools dan equipment pada tempat yang semula.

4.3.5        Maintenance Record

Catat hal-hal yang sudah dikerjakan pada aircraft loog book, antara lain :
1.      Pengerjaan yang dilakukan
2.      Tanggal, Bulan, Tahun pengerjaan yang dilakukan
3.      Nama dan tandaangan mekanik/engineer yang melakukan pekerjaan
4.      Nama dan tandatangan serta stamp dari Inspector



BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN


5.1  Kesimpulan

Dari Uraian Laporan Tugas Akhir yang dibahas, maka penulis dapat mengambil suatu kesimpulan sebagai berikut:
1.      Engine fire extinguisher bottle merupakan salah satu komponen yang penting bagi pesawat terbang karena fungsinya sebagai alat untuk menyimpan fire extinguishing agent yang berfungsi untuk memadamkan api.
2.      Hydrostatic test pada engine fire extinguisher bottle berfungsi untuk mengetahui kekuatan pengembangan bottle masih dalam batas yang diijinkan
3.      Hydrostatic test pada fire extinguisher bottle harus mengikuti prosedur dari manufacture
4.      Hydrostatic test untuk engine fire extinguisher bottle boeing 737 MAX dilakukan setiap lima tahun sekali
5.      Squib berfungsi sebagai trigger untuk meledakan seal pada engine fire extinguisher bottle, karena squib tersebut sangat sensitif terhadap gelombang electrostatic oleh karena itu harus menggunakan alat electrostatic discharge
6.      Apabila menyentuh squib tanpa menggunakan alat electrostatic discharge atau waist trap maka squib dapat rusak dan tidak befungsi sesuai dengan fungsinya

5.2  Saran 

1.      Pelajari materi atau AMM sebelum kita melakukan pekerjaan pada pesawat.
2.      Berdasarkan pengalaman penulis selama menyusun Tugas Akhir, kami sarankan untuk setiap Mahasiswa/i yang akan membuat Tugas Akhir, kumpulkan data yang sesuai dengan judul Tugas Akhir untuk mempercepat pembuatan Tugas Akhir.
3.      Gunakan APD yang sesuai dengan pekerjaan yang akan dilakukan.
4.      Gunakan dokumen yang Valid, Akuntabel, Terkini dan Memadai (VATM).

DAFTAR PUSTAKA
1.      Aircraft Maintenance Manual (AMM)
2.      A&P Technician Powerplant Textbook
3.      Component Mintenance Manual (CMM) Pasific Scientific
4.      Ilustrated Part Catalog (IPC)
5.      Module 7 Maintenance Practices (Fire Protection)
6.      Module 15 GAS Turbin Engine (Fire Protection System)
7.      System Description Section (SDS)

No comments:

Post a Comment

LAPORAN TUGAS AKHIR STUDI ATAS PERAWATAN ENGINE FIRE EXTINGUISHER BOTTLE PADA PESAWAT BOEING 737 MAX HENDLORD JESRANO ...